Situ Bagendit
Sabtu, 27 Juli 2013
Perjalanan ketiga di kota yang sama, dengan orang yang sama pula. Setelah 2 minggu kami gak melakukan trip, akhirnya Sabtu kali ini kami kembali pada kegiatan biasanya. Trip kali ini berbeda, karena bulan puasa. Biasanya kami berangkat pukul 7 pagi, kali ini kami berangkat pukul 12 siang, dimana matahari sedang berada di atas ubun-ubun, hot like fire banget deh.
Garut lagi, dia bilang kalau kota ini gak pernah habis buat diexplore. Memang benar, aku pikir-pikir kami sudah tiga kali ke kota ini dengan tempat yang berbeda dan selalu berkesan di setiap sudutnya. Dan sepertinya aku mulai menyukai kota ini.
Jalanan gak terlalu macet, waktu itu kan pagi-pagi macetnya minta ampun, entah karena berbeda jalurnya kali ya. Nova lumayan ngebut sih, sehingga aku dibalik punggungnya diam-diam heboh memegangi tali helm yang tidak aku ikat karena takut gak bisa buka sendiri nantinya. Matahari masih ada di ubun-ubun, gak terlalu gerah karena Nova melajukan motornya sedikit kencang.
Kata Nova perjalanan kali ini gak akan terlalu banyak memakan waktu seperti waktu itu, karena kami mengunjungi Garut bagian kota. Sekali lagi, hot like fire banget deh cuacanya, gak kebayang Nova pakai jaket tebal. Hih.
Perjalanan edisi ramadhan sih memang, ketika menemukan mesjid kami berhenti. Nova shalat dzuhur dulu, sementara aku menunggunya di luar. Setelah itu kami melanjutkan kembali perjalanan.
Nova memberi tauku nama tempat-tempat, dia menunjukkanku tempat yang pernah dikunjunginya untuk mengambil foto kereta api. "Kita berhenti dulu ya di Karangsari, ngambil foto kereta." katanya padaku. Aku segera mengiyakan.
Tibalah kami pada hamparan sawah hijau yang luas dengan pemandangan di sekitarnya. Di depan kami terbentang rel kereta api yang panjang. Nova lalu mengeluarkan kamera dan segala macam peralatan lainnya yang tak aku ketahui namanya satu persatu. Sementara itu aku duduk memperhatikan Nova yang serius mengambil foto. Sesekali dia menghampiriku untuk menunjukkan hasil fotonya padaku. Bagus-bagus, ia berbakat sekali, tapi dia selalu saja merendah. Aneh.
Ia mengajakku mendekat ke arah rel, di hadapan kami ada dua rel yang dipisahkan oleh tembok tinggi. Nova berdiri di sana sambil sesekali memotret. Aku memperhatikannya dari bawah. "Sini, kesini." ajaknya padaku. "Takut ada kereta lewat. Gimana?" kataku enggan. "Gak akan, kalau lewat nanti ada bunyi." jawabnya meyakinkan. Aku menghampirinya naik ke atas, ternyata dari tempat kami berdiri kami bisa melihat semuanya lebih jelas, indah sekali. Aku bahkan memekik senang dalam hati melihatnya. "Tuh kan, relnya ada satu." katanya menang. "Enggak, tuh liat. Ada dua tau." kataku sambil menunjuk rel di kejauhan. "Sini, liat lagi. Di sebelah sini memang relnya ada dua, tapi di kedua ujungnya menyatu." dia menjelaskan dengan sabar. Oh iya ternyata benar, aku malu. Nova bilang kalau ini bukan tempat pemberhentian kereta, sehingga membuat tempat ini sepi, tak seperti stasiun kereta api yang sering kulihat di TV-TV.
Kami masih berdiri di tembok tinggi itu, membicarakan banyak hal. Ia memberiku banyak informasi, membuatku menjadi tau banyak hal. Aku suka, Nova pengetahuannya luas sekali dan dia tak ragu untuk membaginya denganku. Empat jempol deh. Dia hebat, aku senang melihatnya ketika dia serius memotret, gerak tubuhnya, setiap inci pergerakannya terasa mengesankan, ia sudah seperti fotografer pro.
Dia menunjuk ke langit, "Lihat, awannya berbentuk anjing." katanya. Aku lalu ikut menengadah ke langit, "Oh iya benar, itu ekornya, itu kepalnya." kataku ikut menunjuk ke arah awan yang dimaksud.
Suasana sepi, hanya ada suara obrolan kami, air mengalir di dekat sawah, juga suara petugas di dalam ruangan sana. Kami membicarakan banyak hal, aku tak pernah bosan mendengar ceritanya. Setiap ucapan yang dituturkannya selalu mengandung pelajaran.
Kami turun dari tembok itu lalu duduk di sebuah kursi dekat rel karena akan ada kereta yang lewat. Oh iya, relnya dibuat bercabang di tempat ini agar apabila ada dua buah kereta dari arah berlawanan akan lewat, salah satu keretanya bisa berhenti dulu di tempat ini. Kebayang kan kalau kereta itu tabrakan karena gak ada salah satu yang berhenti? Nah itulah tugas orang-orang yang berada di kantor stasiun ini, mereka akan memperingatkan kapan saja ada kereta yang akan lewat serta mengaturnya.
Eh keretanya berhenti? Aku memendam senang dalam hati, memang norak sih. Kereta itu berhenti beberapa meter di hadapanku, lalu kulihat ada beberapa orang yang turun. "Nov, ini kan bukan tempat pemberhentian, kok pada turun sih?" Aku tak dapat menahan rasa penasaranku. "Orang yang turun gak akan sebanyak kayak di stasiun-stasiun gitu. Kereta ini berhenti karena akan ada kereta yang lewat dari arah yang berlawanan." Aku mengangguk mengerti, "Tapi kenapa ada penumpang yang turun?" tanyaku lagi. "Kereta lokal aja yang bakal berhenti." katanya menjelaskan. Aku mengangguk lagi. Lumayan lama keretanya berhenti, Nova meninggalkanku sebentar untuk mengambil foto.
Kedua kereta itu berlalu dan kami pun melanjutkan perjalanan lagi. Wah senangnya, akhirnya bisa juga menemani Nova mengambil foto kereta api. Satu keinginan terkabul. Yeay!
Kami lanjutkan perjalanan lagi, setiap kali melihat view bagus, dia memberhentikan motornya dan cepat-cepat mengambil foto. Dan hasilnya selalu bagus, kok bisa ya? Ada sulap di tangannya kah? Entahlah, nanti aku akan teliti sendiri ah. Dan tiba di suatu tempat entah dimana, ada rel kereta berbentuk S, lucu sekali. "Bagus nih, bentuknya S." katanya sambil memperlihatkan hasil jepretannya. "Berarti kita bakal berhenti kalau nemu huruf lain?" kataku menahan tawa. "Iya, kalau nemu huruf Y." jawabnya sambil cekikikan, aku hanya tertawa. "Ah kalau huruf Y sih udah gak aneh." jawabku sambil mengulum senyum.
Nah setelah itu, kami berhenti lagi untuk shalat. Dia menyuruhku shalat duluan. Sambil duduk-duduk di teras mesjid, kami mengobrol- ya tentang apa saja. Semuanya kami bahas. Nova memperlihatkan hasil-hasil foto yang sudah diambilnya, ada satu foto yang paling aku suka. "Ini foto bisa cerita banyak. Kursi ini memang terlihat sepi tapi dia kayak lagi nunggu seseorang buat ngedudukinnya, orang Bandung." jelasnya sambil memperlihatkan foto tersebut. "Siapa?" tanyaku. "Orang jalan sukabumi." jawabnya sambil tersenyum, ah iya! Dia tersenyum dengan cara yang sama, khas sekali bagiku. Back to topic, foto itu dia ambil di stasiun Karangsari tadi, kursi yang kami duduki. Hasilnya bagus sekali, ingin aku menuliskan sesuatu dari foto itu. Ah cinta banget deh sama foto-fotonya!
Ternyata Situ Begendit itu dekat dengan mesjid yang barusan kami datangi, hanya menempuh beberapa menit saja. Kami masuk dan Nova langsung mengajakku menaiki perahu bebek. Kalian tau kan? Iya, perahu bebek yang dikayuh oleh dua orang itu. Mungkin kalian pernah naik juga waktu kecil.
"Ayo, mau ya naik?" ajaknya padaku. "Hah? Terserah." kataku agak kaget, entah kaget kenapa. Lalu kami menyusuri jalan menuju perahu tersebut, jalannya terbuat dari bambu kalau gak salah, aku takut sekali apalagi dibawahnya ada air. "Nov, aku takut." kataku enggan-enggan melangkah. Nova menghampiriku dan mengulurkan tangannya untuk menuntunku tapi aku tak mau merepotkan lagi, aku berjalan sendiri walau susah payah menahan takut.
Nova duduk duluan, diikuti aku. Belum apa-apa aku sudah heboh karena perahunya goyang. Setelah mas-mas memberi intruksi kecil, Nova mengarahkan perahu itu dan mulai mengayuh. Pelan...
Nova lalu mengarahkan perahu kami, mengayuhnya perlahan sementara kakiku hanya diam digerakan oleh kayuhannya hehe. "Nov, kok perahu kita pelan banget sih? Coba kayuh lebih kenceng yuk! Satu, dua, tiga." Aku mengayuh dengan semangat tapi hasilnya sama dengan sebelumnya. "Gak ngaruh, kayuhnya pelan-pelan aja yang penting beriringan." katanya padaku. Benar juga, kok gak ngaruh ya?
Sesekali kami berhenti mengayuh dan dia mengambil beberapa foto dan lagi-lagi hasilnya bagus. "Wah bagus, kayak mirror." pujiku jujur. Kami bercerita banyak hal. Baru kali ini aku ngebuburit di atas air, setenang ini, mengesankan seperti ini. Biasanya aku hanya tiduran di kamar menunggu sampai maghrib dan itu membosankan sekali. Dan Nova datang menyelamatkanku dari lubang kebosananku itu haha.
"Nah, rumah tangga tuh seperti mengayuh perahu berdua. Diperlukan kerja sama dari keduanya untuk menuju tujuan yang sama." ucapnya padaku. Setiap perkataannya memiliki makna yang tak diucapkannya secara langsung tapi dia membiarkanku mengartikan setiap ucapannya. "Ya, benar. Beda sama kita. Kita gak tau nih perahunya bakal mau kemana." kataku sambil tertawa. "Nah begitu juga rumah tangga, kalau kita gak ada tujuan ya pasti bakal berlayar terus aja tanpa tujuan jelas." ucapnya penuh arti.
Di permukaan air muncul banyak tanaman, namanya eceng gondok katanya. Sayang sekali, tanaman tersebut menghalangi, banyak juga tanaman seperti daun teratai. Airnya kelihatan dangkal tapi sepertinya dalam sih. Lumayan lah kalau nyebur dan gak bisa renang sih wasalam. Banyak juga tumbuhan di dalam air.
"Wah aku baru sadar perahu kita warnanya ijo!" kataku riang. "Nah, semuanya udah diset, gak ada yang kebetulan di dunia ini." ucapnya dengan tatapan penuh arti, seperti hendak menyalurkan makna ucapannya padaku lewat tatapan tersebut. "Ya, aku tau ini semua udah ada skenarionya dan kita berperan sebagai pemain." kataku yang mendapat anggukannya. Aku jadi sadar, mungkinkah pertemuanku dengan Nova ini memang sudah diatur? Awalnya aku mengira perkenalan kami hanya sebuah kebetulan yang mengantar kami pada pertemanan ini. Tapi aku yakin kalau Allah tak pernah menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Begitu pula dengan Nova, pasti Allah punya maksud menciptakan manusia setengah malaikat seperti Nova ini, mungkin kah Allah telah berperan dalam setiap pertemuan kami? Sepertinya aku mulai tau mengapa Allah mengirimkan Nova ke dalam kehidupanku...
Tenang, hanya ada suara air yang terkena kayuhan kami dan suara obrolan kami. Banyak pengalaman yang ia bagi, aku suka caranya memandang hidup, caranya berusaha, caranya mensyukuri setiap apa yang dimilikinya. Aku jadi malu, aku masih saja sering mengeluh. Aku malu.
Setelah berputar-putar entah berapa lama, kami bekerja sama memarkirkan perahu, dan sukses. Ngebuburit yang sangat berkualitas selama 17 tahun aku hidup, menyenangkan sekali. Hujan mulai turun tapi tak terlalu deras, kami melanjutkan perjalanan lagi untuk mencari makan berbuka.
Kalau gak salah kami ke alun-alun kota Garut, kalau gak benar ya berarti salah. "Suka ramen, gak?" tanyanya sambil memperlambat laju motornya. "Ramen? Suka kok. Kenapa?" tanyaku balik. "Mau makan ramen, gak?" tanyanya lagi. "Hah? Ramen? Emang ada?" ucapku tak tau. "Ada, di sebelah sana." lalu ia memutar balik motornya dan memarkirkannya dengan sukses. "Mau gak?" tanyanya memastikan. "Terserah, aku takut kamu gak mau makan ramen." ucapku. "Gak ada terserah. Iya atau enggak." tegasnya. "Terserah." aku ngeyel menjawab.
Setelah memesan, kami menunggu pesanan dengan mengobrol. Perjalanan kali ini memang berbeda, biasanya kami membicarakan tentang sistem pendidikan di Indonesia, sekarang dia membagi cerita pribadinya- ya, love story gitu. Cerita cintanya menarik bagiku, tak seperti kebanyakan cerita hidupku. Manis sekali kisahnya, seperti di film-film. Nova sudah lama berlayar dan kini kapalnya telah menemukan labuhannya. Mendengar dari kisah yang dititurkannya, aku speechless, gak bisa ngomong apa-apa, bagus sekali. Nova beruntung memiliki perempuan cantik itu, setia pula. Dan tentu istrinya beruntung bisa bersama Nova yang baiknya gak ketulungan. Nanti kalau aku udah punya suami pengen deh semenarik itu ceritanya haha.
Ramen kami tiba di meja, aku mendaratkan telur rebus bagianku ke dalam mangkuk Nova, jorok sih ya Allah maafin aku ya, Nov. Sambil terus bercerita kami sesekali makan. Dan aku payah kalau soal makan, tak terasa ramen di mangkuk Nova sudah lama habis, sementara ramenku masih banyak dan sudah lembek, iyuwh. Aku malu nih, aku lupa bilang sama Nova kalau makan denganku harus pelan-pelan biar selesainya barengan. "Yah kamu udah abis, aku masih banyak gini. Kamu sih cepet-cepet, tungguin ya!" kataku agak panik.
Kembali lagi pada ceritanya. "Setia itu gak dilihat dari seringnya dia berada di samping kita tapi bagaimana dia menunggu, ketika kita tak berada di sampingnya." kira-kira seperti itu yang ia ucapkannya. Menarik sekali. Dia juga bilang kalau jarang ketemu gak berarti jelek, jarang ketemu bisa membuat setiap pertemuannya berkualitas, juga bisa memberi rindu ruang untuk tumbuh. Benar, setiap apa yang diucapkannya selalu memiliki arti penting. Aku jadi banyak mengambil pelajaran. Aku senang mendengarnya bercerita, kehidupannya selalu menarik untuk didengar, tanpa perlu aku mengulik sendiri karena aku merasa tak sopan kalau aku banyak bertanya tentang kehidupan pribadinya.
Ah lagi-lagi aku kalah. Entah jaman kapan pisang keju Nova sudah habis sementara pisang kejuku masih utuh, karena aku terlalu serius mendengar ceritanya kali ya? Entahlah, aku mulai berpikir untuk belajar makan cepat di rumah, kalau-kalau makan lagi sama Nova kan aku gak malu-maluin. Semoga bisa!
Pukul 7 malam, kami bergegas menuju Bandung, takut sampai di Bandung kemalaman katanya. Ngebut sekali sampai aku sering merapatkan kedua sisi jaketku karena kedinginan. Perjalan pulang kami tak banyak bicara, dan aku paling tak tahan dengan keadaan seperti itu. Aku ngantuk berat di balik punggungnya, sepanjang perjalanan aku memejamkan mata sambil bertopang dagu. Sesekali Nova memberi tauku sesuatu dan aku menjawab seadanya, ngantuk sekali.
Setelah berkilo-kilo perjalanan kami tempuh yang semakin mendekatkanku pada rumah. Itu saatnya aku pulang dan mengakhiri perjalanan mengesankan ini. Ah rasanya gak mau udahan, rasanya sebentar banget.
Dan itulah perjalanan kami ketiga, bagaimana denganmu? :)
Komentar
Posting Komentar