Kebersamaan Memang Bukan Untuk Kita
Mawar merah kemarin, kamu kirim malam-malam ke rumahku. Pakaianmu basah kuyup, mesin motor kamu matikan. Aku membawa payung, memayungi aku dan kamu. Dengan tubuh yang menggigil, kamu memberikan setangkai bunga mawar merah yang sedari tadi kamu sembunyikan di balik punggungmu. Aku tersenyum, tersenyum pahit. Entah harus senang, atau merasa sedih. Plastik bening pembungkus mawar itu telah basah karena kamu membawanya di bawah hujan yang deras. Kelopak mawar itu mengendur, bahkan plastiknya tak sempat kamu rapikan. Kamu tersenyum ke arahku, dengan tetes-tetes air yang jatuh dari rambutmu, kamu berusaha tersenyum ke arahku, menahan gemetar dalam tubuhmu. Aku hanya mengangguk dan mengucapkan terima kasih, mengiringi langkahmu menjauh pergi. Kamu menyalakan mesin motormu. Masih sempat-sempatnya kamu tersenyum ke arahku. Sebelum kamu berlalu, satu kalimat itu masih menari-nari di kepalaku. "Jaga bunga itu." Motormu menghilang di balik tikungan, dan aku berdiri mematung di jalan itu, dengan suara hujan yang menghujam badan payungku. Aku diam, tidak senyum, sama sekali.
Beberapa hari berlalu, setangkai bunga mawar yang kamu berikan malam itu, aku biarkan mati di kamarku. Tak aku sentuh lagi sejak terakhir kali kamu memberikannya padaku. Satu per satu kelopak mawar itu gugur dengan sendirinya, kemudian mengering begitu saja, menyisakan sebuah tangkai tipis berduri dengan daun yang juga sudah mengering. Bunga itu mati, hanya menyisakan plastik beningnya saja. Aku bodoh.
Kamu datang lagi ke rumahku, dengan senyum yang masih sama. Kamu tersenyum ke arahku, membuatku tak ingin memandang kamu sedetik pun. Kali ini hujan turun sama derasnya, tanpa henti. Sepatu kamu basah terkena cipratan air di jalan, katamu. Kamu gulung kedua lengan kemejamu sampai siku, celana jeans kumalmu terlihat basah sampai betis. Kamu berbeda malam ini, mungkin dengan payung yang kamu pakai, mungkin kamu tak ingin kehujanan seperti malam itu.
Tangan kananmu memegang tongkat payung, kamu berlindung. Tangan kirimu memegang sebuah buket bunga dengan beberapa mawar merah di dalamnya. Kamu alihkan payung ke tangan kirimu, dan memberikan bunga itu menggunakan tangan kananmu. Aku tau kamu tidak suka memakai payung, untuk alasan ini pula aku mengerti kalau kamu tidak ingin bunga mawarmu basah dan hancur diterpa oleh hujan, seperti kesalahanmu malam itu. Dengan wajah lebih cerah, aku melihat kamu tidak cocok menggunakan payung, apalagi dengan otot yang menonjol di sepanjang lenganmu. Kacamata yang kamu pakai terlihat berembun, membuatku ingin sekali mengusapnya agar kamu bisa melihat lebih jelas. Namun sama sekali kamu tidak menghiraukan kacamatamu.
Bunga itu terlihat rapi, dibungkus plastik bening dengan pita berwarna merah muda di ujung tangkainya. Lebih rapi dan lebih cantik. Berbeda dengan setangkai bunga yang kamu beri waktu itu.
Aku semakin bingung, kedua kakiku enggan beranjak untuk meraih bunga itu, bunga yang ke-dua. Bunga yang mungkin akan bernasib sama dengan setangkai bunga yang mati kemarin. Kamu tersenyum ke arahku, kamu memberikan bunga itu sambil menjaganya dari tetesan air hujan yang mungkin akan menghancurkannya. Aku meraih bunga itu, kamu tersenyum lagi. "Bagaimana?" satu kata tanyamu sontak membuatku membeku. Perjuangan yang kamu lakukan tentu tidak mudah, mungkin saja minggu lalu kamu terserang flu setelah memberikan bunga padaku malam itu.
Kamu menatapku bingung, dengan wajah yang masih penuh asa. Demi Tuhan aku tidak sanggup menghancurkan senyummu, apalagi harapanmu. Tapi hati memilih, bukan kamu yang aku mau. Sungguh, aku hanya tidak ingin kamu senang malam ini tapi lambat laun kamu akan merasa kecewa juga. Aku menggeleng lemah, membuat lengkungan senyum di bibirmu menghilang. Namun sekali lagi, kamu mencoba tersenyum. Lalu kamu berbalik pergi, dan menoleh sesaat ke arahku, di belakangmu, dengan payung dan bunga di kedua tanganku. "Aku mengerti, kebersamaan memang bukan untuk kita." satu kalimat yang meluncur dari mulutmu sukses membungkam mulut kita sekaligus menjadi kalimat penutup malam itu.
Kamu berjalan gontai, dengan payung yang tak kamu pakai, dan malam ini aku sadar kalau kamu tidak membawa motormu. Kamu datang ke rumahku dengan sengaja tanpa membawa motormu, aku tau kalau kamu takut mawarmu akan hancur lagi seperti waktu itu. Punggungmu menjauh pergi, kamu berjalan pelan di bawah hujan yang turun dengan deras.
Kamu berjalan gontai, dengan payung yang tak kamu pakai, dan malam ini aku sadar kalau kamu tidak membawa motormu. Kamu datang ke rumahku dengan sengaja tanpa membawa motormu, aku tau kalau kamu takut mawarmu akan hancur lagi seperti waktu itu. Punggungmu menjauh pergi, kamu berjalan pelan di bawah hujan yang turun dengan deras.
Bahkan kamu masih sempat tersenyum ke arahku, yang telah sangat bodoh menolakmu dan masih saja menunggu yang tidak akan pernah datang. Tapi sungguh, hati memilih, dan itu bukan kamu, tapi dia.
Mawar kedua yang kamu beri, kubiarkan mati lagi...
Dec, 15th 2012
20:22
Komentar
Posting Komentar