Pantai Rancabuaya

29 Juni 2013
Ah akhirnya hari yang aku tunggu-tunggu pun datang juga. Semalaman aku tidak tidur, tidak bisa sama sekali- tidur ayam paling, sok-sok pengin tidur padahal gak tidur. Alhasil ada lingkaran hitam di sekitar mataku, dan pagi itu aku tidak ngantuk, ajaib, bukan? Bukan? Ya sudah!

Nova menjemputku pukul 6.45 di jam ponselku. Ah iya! Pasti kalian mengira Nova itu perempuan, tidak... dia laki-laki, pria lebih tepatnya. Akhirnya kami berangkat pada pukul 7 tepat. Sudah banyak kendaraan yang memenuhi jalanan, padahal masih pagi. Kendaraan-kendaraan itu seakan saling berlomba untuk menghasilkan polusi. Matahari belum sepenuhnya naik, pagi sekali, pikirku. Ya, pikiran bagi orang yang doyan bangun siang sepertiku. Ah seharusnya udara pagi bisa lebih segar dari ini, tapi polusi sudah mencemarinya, sayang sekali.

Sepanjang perjalanan yang ternyata jauh lebih panjang dari apa yang aku bayangkan, kami habiskan untuk bercerita tentang banyak hal, entah penting atau tidak. Yang pasti kalau cerita itu keluar dari mulutku sih ya kemungkinan 90%nya gak penting, tapi beginilah aku. Aku suka bercerita banyak hal pada seseorang yang bersedia menampung ocehanku, seperti Nova. Aku sering kali bertanya ini-itu padanya, entah mengganggunya atau bahkan sangat mengganggunya, aku tak peduli, aku ingin tau. Seperti tour-guide yang sudah pro, dia menjawab semua pertanyaanku dengan cara bicara orang yang pandai, aku suka. Iya lah, dosen. Padahal aku hanya bertanya tapi ia bukan hanya menjawab, ia menjelaskannya padaku. Pokoknya, untuk urusan tour sih ia sudah pro menurutku, bagaimana tidak, ia sering kali melancong kesana-kesini untuk sekedar hunting foto. Keren!

Rasanya perjalanan panjang ini mengikis pantatku secara perlahan, pegal sekali rasanya duduk di motor terus menerus. Tapi tak apalah untuk sesuatu yang berharga memang perlu ada perjuangan untuk mendapatkannya. Betul? Ya, bisa jadi! Aku jadi banyak tau nama tempat-tempat, kehidupan masyarakat dari tata letak kotanya, dan aku sering kali membandingkan kehidupan damai di desa dengan kepenatan hidupku di kota, berbeda 180 derajat.

Aku jadi malu. Aku jarang sekali bersyukur. Nova memperlihatkanku sebuah sekolah dasar yang bangunannya didirikan dari tenda sederhana saja. Sedih sekali melihatnya, penduduk di pedalaman seperti ini sangat sulit mendapat pendidikan layak sepertiku di kota. Aku yang bersekolah di sekolah elit malah kurang bersyukur, kadang aku malas-malasan belajar di sekolah. Ah kasihan anak-anak itu.

Udara semakin lama semakin dingin, kami menelusuri hutan di daerah pegunungan yang luar biasa dingin. Dan kata yang mampu keluar dari mulutku adalah: KEREN BANGET! Mataku dimanjakan oleh hijaunya dedaunan, lembutnya awan, segarnya air yang meluncur indah dari air terjun, udaranya sejuk, masih bersih, matahari bersinar malu di sela-sela rimbunnya pepohonan di hutan tersebut. Tak hanya itu, banyak sawah membentang, gunung yang terlihat membiru dari kejauhan, langit yang sangat cerah. Aku suka, suka sekali. Aku cinta, aku cinta tempat seperti ini, aku tidak ingin pulang rasanya. Berbeda dengan kehidupan pekotaan di kotaku, udara sudah tak bersih lagi, banyak kendaraan dimana-mana sehingga menimbulkan macet, lahan hijau pun jarang ditemukan, yang ada hanya gedung-gedung tinggi perkantoran atau mall.

Jalanan yang kami tempuh tidak selalu mulus, seperti hidup saja rasanya. Untuk mencapai apa yang kita inginkan pasti ada kalanya kita mengalami tantangan. Ya, seperti kami yang mengalami banyak tantangan di jalan. Sering kali jalannya hancur, becek dan licin sampai pernah kami hampir jatuh, untung dapat kami tahan. Nova menyenangkan, ia mampu menjadi teman bercerita terbaik, kadang kami melontarkan lelucon yang bahkan tak ada lucu-lucunya. Tapi aku senang, setidaknya kalau pun aku aneh, ada Nova yang juga sama anehnya hahaha. Percakapan aneh kami seakan menyatu, sudah bakatnya seperti itu kali, ya. Ah pokoknya ia baik sekali, aku sudah menganggapnya seperti abangku sendiri.

Cobaan pertama datang, kebelet pipis yang sangat amat kebelet. Aku tahan selama perjalanan, udara yang dingin semakin memperparah keliaranku untuk ingin pipis. Akhirnya apa yang selama perjalanan itu aku pendam, dapat aku ceritakan juga padanya. Aku mulai merasa tak karuan, tak enak sekali rasanya menahan pipis apalagi kulihat di daerah tersebut jarang sekali toilet, kebanyakan pepohonan. Aku mulai parno apabila toilet benar-benar tidak ada di tempat yang jauh dari peradaban tersebut.

"Kamu kenapa, yen?" Tanya Nova melihat tingkah anehku. "Pengen pipis." Jawabku dengan dukacita. "Yah, kenapa gak berhenti di warung tadi? Aku juga sama nahan pipis." Jawabnya tak kalah ingin curhat juga. "Memang ada toilet di tempat seperti ini? Kamu gak usah curhat kalau kamu pengen pipis juga!!!" kataku heboh menahan pipis. "Biasanya ada, di belakang warung. Yak an aku cuma mengungkapkan kesamaan nasib." Katanya yang sedikit membuatku geli. "Nanti 15 menit lagi kita berhenti di warung depan." Katanya bersolusi. "Warung? Gak ada lagi warung!" kataku heboh. "Ada, di depan sebentar lagi." Katanya menyabarkanku. Ia malah mengejekku, katanya aku seperti perempuan di iklan GS Astra, aku tidak peduli, pokoknya aku hanya ingin pipis. Titik.

Akhirnya sampai di warung yang seakan menjadi harta karun berharga bagiku. "Tuh pipisnya di situ, aku gak akan ngintip. Aku bakal jagain." Katanya mempromosikan toilet aneh itu. "Apa? Gak jadi ah. Takut." Kataku enggan setelah melihat tempatnya. "Mau sampai kapan ditahan?" katanya sambil tersenyum membuatku manyun tak bisa berpikir panjang lagi. Aku pipis, ia menjaga. Dia pipis, aku lupa menjaga. Aku malah dengan tak berdosanya duduk di warung. Nova sudah memesankan dua gelas susu jahe untuk kami, katanya untuk menghangatkan badan. Tapi tak kuminum semua, aku takut ingin pipis lagi di tengah perjalanan seperti tadi.

Warung tempat kami beristirahat sekalian menjadi tempat bermodus numpang pipis ini terletak di lokasi Rancabali, entahlah katanya itu berada di Cianjur. Aku hanya bisa bilang wow bisa melancong sejauh ini. Ia mengeluarkan kameranya. Memotret bunga di sekitar jalan itu. Satu kata untuk hasil jepretannya, bagus. Eh dua kata deng, bagus banget! Memotret hal sederhana seperti itu bisa sangat menarik ketika hasil foto itu terlahir dari jepretan Nova. Ia pun mengajariku bagaimana caranya mengambil sebuah foto dengan hasil bagus sepertinya. Aku ikut berjongkok dengannya sambil melihat pada objek. Lalu ia mengalungkan kameranya pada leherku, lalu sedikit mengatur dan memberitauku beberapa hal yang akan membuat foto itu memiliki hasil yang bagus. Jpret! Tada! Dan karyaku tentu berbeda jauh dengan punyanya, aku sungguh tak ada bakat memotret. Aku kagum, dia sudah begitu pro. Semuanya saja pro, tour-guide pro, fotografer pun pro. Kulihat ia orangnya apik, sayang sekali pada kameranya, seperti merawat sesuatu.
 
Perjalanan kami lanjutkan kembali dengan berbagai keluhan yang meluncur dari mulutku, seperti "Pantatku pegel nih", "Jangan ambil jalan kanan!", "Ini dimana?", "Masih jauh ya?", "Berapa kilo lagi? Berapa lama lagi?" atau apa pun lah yang mampu mulutku utarakan. Aku sangat menikmati setiap detik perjalanan kami, banyak sekali yang aku syukuri dengan melihat hasil karya-Nya yang mahaindah itu, rintangan yang membuat kami semangat melanjutkan perjalanan, dan obrolan-obrolan garing lainnya yang menjadi teman perjalanan kami.

Masih saja belum sampai. Kami berhenti dulu di alfamart, ia membeli minuman untuk bakar-bakaran yang mungkin rasanya seperti api. Dan ia membelikanku es krim, agar aku tak ngantuk di perjalanan, katanya. Setelah itu kami lanjutkan perjalanan yang diakuinya tinggal 45 menit lagi. Tidak lama tidak. Angin berhembus sangat kencang, samar-samar birunya air laut terlihat oleh pandanganku, aku gembira sekali. Ah akhirnya laut penantian kami sudah dekat!

Tiba di pantai, seorang petugas karcis menagih uang masuk. "7000" katanya sok cool. Nova membayarnya lalu petugas itu merobek 3 karcis yang diberikannya pada kami. Setelah aku perhatikan, petugas itu ternyata memberikan 2 karcis motor dan 1 karcis orang. Apa harus petugas itu diberi mizone agar konsentrasinya bagus? Entahlah, aku merasa sangat terabaikan, dihitung sebagai motor. Sedih bukan? Sediiiiih. Oh iya, kami berada di pantai Rancabuaya, lokasinya di Garut. Waw sekali kan. Dari jauh saja kulihat pantainya begitu luas, warna birunya seperti pakai pensil warna, bagus sekali.

Angin kencang yang selama perjalanan kami menuju pantai rasakan ternyata membuat ombak tampak liar menerjang. Air laut pasang, bahkan ombaknya menepi terlalu jauh. Situasinya sungguh gak memungkinkan mengingat air laut yang pasang serta cuaca yang mulai berubah tak bersahabat. Nova mengajakku untuk makan siang di warung pinggir pantai. "Mau udang?" tanyanya antusias. "Terserah" jawabku berbinar. Eh tapi zonknya, ternyata tak ada udang, alhasil Nova memesan ikan kakap bakar.

"Ya ampun gede amat. Ini mah buat makan satu RT kali." Kataku takjub melihat ukuran ikan bakar di hadapan kami. Nova hanya senyum-senyum, ah ia selalu saja terlihat sedang senyum-senyum sendiri. Ia memberiku sebuah piring dan menarik satu piring lain ke hadapannya. Ia memotong daging ikan kakap super jumbo itu lalu meletakannya ke piringku, lalu ia mengambil bagiannya sendiri. Ikan kakapku tak kuberi sambal, aku tak suka bawang. Memang sih hal bawang ini rasanya tak penting untuk diceritakan, tapi yasudahlah.

"Kamu harus banyak makan protein, jadi kalau makan mending sedikit nasi tapi lauknya banyak. Banyak orang yang terlalu berlebihan karbonya jadi bikin diabetes. Nah kalau makan banyak ikan ini gak akan bikin gendut, malah bikin pinter karena ada omega..." katanya panjang lebar dan aku dengan tak sopan memotong pembicaraannya. Berbicara dengannya seperti belajar, habat sekali ia. Aku pun makan sambil memerhatikan dosenku mengajar sambil makan juga. "Mau masuk geologi unpad, kan? Nah berarti harus banyak makan ikan ini." katanya terkekeh. Aku tersenyum. Aku banyak bertanya mengenai pekerjaannya, aku jadi banyak tau, ia berjiwa siswa sekali, mengerti perasaan jiwa siswa-siswa yang teraniaya oleh tugas menumpuk dari guru. Ah andai saja ia yang jadi menteri pendidikan di indonesia... Ia memberiku semangat untuk berjuang mencapai keinginanku masuk unpad. Ia malah tak suka kalau belum apa-apa aku sudah menyerah. Ia juga mendukungku sekali untuk menjadi penulis, tapi aku masih merasa tulisanku belum bagus. Pokoknya kalau membahas itu aku malu sekali.

Aku memang tak terlalu banyak kalau makan, aku makan secukupnya, soalnya aku lebih suka ngemil. Pantas saja gendut.

"Ikan air laut dengan ikan darat beda." katanya sambil terus makan. "Hah? Memang ada ikan darat?!" kataku sambil tertawa. "Maksudnya ikan air tawar." katanya sambil tersenyum. "Kalau ikan laut tuh enak, ga seamis ikan air tawar." jelasnya yang membuatku mengangguk setuju. Waduh kakapnya enak sekali, lembut, pokoknya aku suka sekali, apalagi aku memang suka ikan. Ah seperti pak bondan saja aku ini, komentar terus.

Kami mengobrol panjang lebar saat makan bersama. Tentang dirinya sebagai dosen, tentangku yang tak lama lagi menjadi mahasiswi, pokoknya tentang semuanya yang akhir-akhirnya mengandung pelajaran di dalamnya, memang dasar dosen sih kayaknya kalau gak ngajar, gatel. Lagi-lagi aku harus mengakui ia sebagai koki yang pro, sudah tak usah dijelaskan! Pokoknya apa pun yang dilakukannya terasa pro bagiku. Ya, professional. Aku kagum, aku jadi banyak belajar dari semua pengalaman hidupnya, banyak sekali. Ia juga bisa menyesuaikan diri denganku, sebenarnya aku agak takut sih kalau-kalau ada ucapan dan perbuatanku yang terkesan tak sopan.

Cuaca memburuk, hujan turun. Membuat kami rela hati hanya melihat pantai itu saja, aku jadi tak enak hati padanya, ia tak jadi memotret pantai itu karena cuaca yang kurang bersahabat. Aku jadi sedih, melihat perjuangannya mencapai tempat ini, rasanya sayang sekali. Melihatnya membawa banyak barang bawaan, semua sudah ia siapkan dengan matang. Aku sedih, kasihan dia. Lagian cuaca tuh unpredictable, ucapnya padaku. Tapi aku kagum dengannya, ia seakan berusaha selalu terlihat senang, padahal kalau aku jadi dirinya sih kecewa berat. Tapi ia selalu tersenyum.

Kami pulang dengan tangan hampa, masih terbersit di hatiku rasa kecewa, perjuangan kami ini tak menghasilkan foto satu pun, kasihan ia. Sudah aku repotkan terus, tapi untuk hal ini aku tak dapat banyak membantu. Aku pun kecewa karena senja yang aku nantikan tak mungkin muncul mengingat cuacanya tak mendukung.
 
Untunglah perjalanan pulang kami mengambil jalur yang berbeda, bisa repot urusannya kalau harus sabar lagi menghadapi setiap lubang di jalan-jalan sebelumnya. Tapi medannya cukup ekstrim, kelokannya tajam, banyak jalanan yang menanjak dan menurun cukup curam. Aku jadi parno, jalannya licin pula. Tapi Nova ternyata pro juga dalam berkendara, semua saja ke-pro-an di dunia ini dia yang ambil!

Cuaca semakin dingin, nampaknya tubuhku merespon dengan buruk. Aku pernah sekali waktu dinyatakan alergi dingin seperti mamaku, tapi kali ini reaksi yang ditimbulkannya belum muncul, hanya gemetar di bibir dan tubuhku saja. Rasanya bisa mati membeku aku berlama-lama di tempat itu, aku ingat tempatnya di Pangalengan, ya iya lah tentu dingin! Rasa kantukku juga membuatku sering menguap di balik punggung Nova. Ngantuk sekali, bahkan sempat aku sebentar memejamkan mata. Untuk mengurangi rasa dingin, selama perjalanan aku terus mendekap jas hujan miliknya. Akhirnya Nova mengajakku ke sebuah warung di pinggir jalan, ia membeli segelas kopi panas. Nampaknya wajahku menampilkan kebetean tingkat dewa, karena Nova bilang, "Kamu kenapa? Kok kayaknya bete banget." Tanyanya sambil mengeluarkan kamera. "Aku gak bete sumpah. Aku kedinginan aja." Kataku jujur. Lalu ia menyodorkan gelas kopi itu pada tanganku, menghangatkan sebagian tanganku. Ah tidak! Dingin sekali rasanya. Ia mengisi bensin yang ternyata aku baru tau ia bawa sendiri, warnanya pink, lucu sekali. Ternyata itu bensin pertamax, hahaha lucu sekali. Aku baru tau warnanya seperti itu. Habis kalau di pombensin kan mana terlihat. Ah iya, motornya kami namakan molang, a.k.a motor petualang. Tangguh deh seperti yang diiklankan di TV. Ternyata molangnya minum bensin warna pink, unyunya.

Tiba lagi kami di perkotaan yang amit-amit macetnya. Di buah batu apalagi, alay rasanya melihat banyak kendaraan di jalanan, banyak orang yang pacaran terjebak macet, tapi aku tak peduli. Aku peduli pada kami, pada pantatku terutama. Sakit sekali, kasihan pantatku, pantat bertahanlah! Sekitar satu jam kami berkutat dengan kemacetan yang tak manusiawi itu. Banyak cerita yang ia bagi denganku, berbobot sekali, berbeda dengan rentetan cerita tak pentingku. Ia sering melancong sejak SMP. Ia juga sudah ke luar negeri, aku jadi iri, hebat sekali Nova. Akhirnya ia mengantarku pulang, dan pantatku senang bisa beristirahat dengan tenang. Kami tiba di rumahku tepat pukul 8 malam, entahlah dengan Nova yang rumahnya di antapani, pasti macet sekali. Ah perjalanan ini begitu menyenangkan, entah aku yang norak jarang ke tempat seperti itu atau gimana. Aku suka sekali. Aku belajar banyak, ternyata untuk mendapat apa yang kita ingin, banyak perjuangannya, tapi setelah kita mendapatkannya, aku mengerti hal tersebut menjadi harga pantas yang kita dapat dari apa yang sudah kita perjuangkan. Harus banyak berusaha, gak selamanya perjuangan kita langsung terbayar, kadang kita harus terus mencoba. Keren banget dah rasanya aku ngomong begitu.
Sebenarnya sih cerita ini masih kurang lengkap, tapi sepertinya akan terlalu panjang kalau aku merincikan semuanya.

Komentar

Postingan Populer