Pantai Santolo

6 Juli 2013
Seperti biasa, Nova menjemputku pukul 7 pagi. Setelah itu kami berangkat dengan jalur pulang trip minggu lalu, biar tak memakan banyak waktu, katanya.

Cuaca cerah, syukurlah. Matahari muncul malu-malu, tak terlalu berpengaruh, tak terasa hangat karena suhu di daerah yang kami lalui cukup dingin, dingin sekali malah tapi lumayan lah, tak sedingin waktu itu hingga aku tak perlu memusingkan masalah kebelet pipis.

Pagi-pagi sudah terjebak macet, kata Nova sih itu karena kami sedang ada di daerah pabrik. Macet sekali. Padat kendaraan. Polusi tebalnya minta ampun. Jadi mendingan terjebak macet atau terjebak nostalgia, guys?^^

Setelah 2 jam perjalanan, kami beristirahat di sebuah warung yang tepat menghadap Situ Cileunca. Dingin. Nova memesan 2 gelas bandrek untuk kami, supaya menghangatkan tubuh, katanya.

Indah sekali, ia menjelaskan kalau danau itu adalah danau buatan, ia juga memberi tauku tentang gunung wayang yang ada di depannya. Seperti belajar sejarah saja rasanya, tapi ini tak membuatku mengantuk seperti belajar sejarah di kelas. Ia mengajarku dengan cara mengobrol ringan, dan banyak yang bisa aku serap dari setiap ucapannya. Belajar dengannya sungguh menyenangkan. Semuanya ia tau, mungkin dia adiknya mbah google, ya.

Nova segera mengambil kameranya dan turun untuk mengambil gambar. Aku memutuskan untuk diam saja di atas, memandangi dari jauh, memandangi Nova memotret dengan serius. Lagian alasan utama aku tak ingin turun karena di bawah ada anjing. Hehe garing. Padahal ingin sekali aku ikut dengannya.
Ia kemudian berlari lagi ke atas. Sedikit ngos-ngosan, ia duduk di sampingku dan memperlihatkan hasil fotonya. Bagus sekali, ia memang berbakat. "Ini nih, tinggal diretouch sedikit." katanya sambil memperlihatkan hasil fotonya. "Aduh bagus banget sih." kataku memuji tulus. Tak ada yang jelek di tangan Nova. Ia memang berbakat.

Ah indah sekali rasanya. Pemandangannya asri, airnya tenang, gunung-gunung di belakang semakin mempercantik pemandangan. Aku suka, tenang. Hangat... Aku menikmati pemandangan dari atas bersamanya sambil sesekali Nova bercerita padaku.

Kami lanjutkan kembali perjalanan, jauh sekali ternyata. Jalurnya memang ekstrim, apalagi siang, lumayan ramai karena kami waktu itu memakai jalur ini pada malam hari. Jadinya di setiap tikungan Nova berani sekali bergaya-gaya ala rossi yang alhasil membuatku memaki ketakutan.

Kami istirahat lagi di Garut. Nova membeli minuman ringan dan tak lupa kami numpang pipis. Sekali dayung, dua-tiga pulau terlampaui. Hahahaha. Lanjut!

Cuacanya panas banget, jalanan jadi berdebu, terik maksimal. Sampe kakiku belang dalam beberapa menit di panggang selama perjalanan. Tapi ini lebih baik dari pada hujan, sih. Kami melanjutkan perjalanan ke Cicalobak yang jalannya penuh perjuangan, berlumpur, jelek dan nanjak maksimal. Aku jadi parno kalau motornya bisa mundur lagi. Tapi Nova sanggup, hebat.

Kami turun, Nova membantuku untuk turun. Dan aku langsung kaget karena ada anjing. "Gapapa." kata Nova menenangkan yang sama sekali tak berpengaruh. Aku mulai panik tingkat dewa ketika si anjing mulai mendekat. Aku mulai berpegangan erat pada Nova, tak tau sekeras apa cengkraman tanganku. Kakiku gemetaran, takut banget. Aku tak peduli, aku takut. Ini tak lucu sama sekali. Beberapa saat kami berdua ngefreeze di tempat, sementara itu aku tetep fokus dengan gerakan anjing itu. Lalu aku buru-buru menarik tangan Nova ketika si anjing naik. Deg-degan maksimal.

Ombak di sana tak terlalu besar karena banyak karang, jadi ombaknya belum menerjang maksimal karena sudah dipecah oleh karang. Bagus sekali, tapi sayang, kata Nova kurang dirawat. Nova tak lama pernah ke sini, jadi dia tak mengambil foto. Lagian sepertinya akan ribet dengan masih adanya anjing itu disana.
Banyak karang yang bolong-bolong, geli sekali bentuknya, kalian juga pasti merinding melihatnya! Nova memperlihatkanku rumput laut yang tumbuh di karang-karang tersebut, lucu sekali seperti selada. Setelah lagi-lagi Nova mengajariku banyak hal di tempat tersebut, kami naik lagi untuk melanjutkan perjalanan.
Ini tempat kedua sebelum ke Pantai Santolo. Entah apa namanya, pantainya tak terlalu luas. Tapi aku langsung panik ketika ia memarkirkan motor dan kulihat ada dua ekor anjing! Dekat sekali, akhirnya aku mohon-mohon supaya kita menjauh dari situ. Tapi di sana memang banyak anjing, aku merengek, aku tak mau kalau ada anjing. Belum sempat menginjakkan kaki, Nova melajukan lagi motornya. Belum apa-apa, bahkan belum ada cerita yang ia ceritakan padaku tentang tempat itu. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan langsung ke Pantai Santolo. "Maaf ya gara-gara aku jadi gak sempat kesitu." kataku meminta maaf karena tak enak hati. "Iya gapapa." katanya padaku. Aku benar-benar tak enak hati, gara-gara aku yang selalu merepotkan, ia jadi tak bisa leluasa. Aduh... Maaf.

Perjalanan masih jauh, tapi birunya air laut sudah terlihat. Nova ngebut, rasanya helmku mau terbang ditarik angin. Aku jadi heboh berpegangan pada tali helm karena takut lepas. Debu di kaca helmku juga tebalnya minta ampun. Tak jarang kami melihat ular menyeberang di depan kami, aku langsung teriak-teriak seperti biasanya. Norak sih soalnya aku jarang melihat ular secara langsung, ya ular bebas seperti itu. Seringnya di televisi kalau pun lihat langsung paling mungkin ya cuma di kebun binatang dan itu pun dikandangin dan aku pun tak ingat kapan terakhir kali aku ke kebun binatang.

Akhirnya kami sampai setelah berpanggang diri di bawah matahari yang terik itu. Pantatku sakit sekali rasanya. "Kita makan." katanya sambil membelokkan motornya ke sebuah tempat makan yang langsung menghadap ke pantai. Indah sekali. Belum apa-apa Nova sudah memesan udang, "Mau ngeulangtahunin Yenni." katanya sambil tersenyum jail padaku. Ia memesan ikan bakar dan mata lembu, sementara itu kami menunggu sambil main di pantai.

Panas sekali, tapi indah. Nova menggulung celananya sampai sebetis, sesekali memotret. Ia banyak menceritakan tentang kehidupannya padaku. Menarik, membuat aku terkagum-kagum sendiri. Banyak yang ia bagi padaku, berharga sekali. Ini tempat yang begitu istimewa baginya. Sebelum kami kembali, Nova mencari-cari batu, lalu menuliskan namaku di pasir pantai yang begitu putih itu. Aku malu sekali rasanya, lantas cepat-cepat aku injak ukiran tersebut. Ia hanya tertawa. Pantai Santolo indah, lebih indah, apalagi.............

Makan siang sudah siap. Udang yang banyaknya minta ampun sudah menyapaku dari kejauhan. Mata lembu yang dipesan Nova juga sudah ada. Mengerikan melihatnya, aku kira mata lembu itu memang benar-benar mata. Ternyata semacam keong laut yang biasa bersembunyi di karang. Banyak sekali, mengerikan. Memang benar di bagian dalamnya seperti ada benda keras yang bentuknya seperti mata. Mata sapi! Menyeramkan. Tapi Nova melahap dengan semangat, sesekali mengetuk-ngetukkan kerang itu sehingga membuat suasana begitu berisik.

Kami bercerita banyak, "Kamu jarang kelihatan senyum." katanya padaku. "Aku memang gak bisa senyum, susah." kataku. "Senyum itu mudah, bahkan lebih banyak otot yang kontraksi kalau kita cemberut." katanya menjelaskan, ya aku tau itu. "Susah, aku paling gak bisa senyum. Kok kamu sering banget senyum?" kataku malu, sambil balik bertanya. "Karena ya tersenyum itu mudah." katanya sambil tersenyum.

Makanan yang kami pesan banyak sekali, kenyang maksimal. Nova menghabiskan ikan bakarnya dengan sukses, sambil terus makan mata lembunya dengan serius. Sementara aku sudah kenyang duluan. "Ayo semangat, sedikit lagi!" kataku usil menyemangatinya yang sedang menghabiskan mata lembu. "Kalau diabisin, kapan kita main lagi." katanya sambil terus makan. "Oh iya, kita berangkat jam berapa?" tanyaku. "Jam setengah 4 aja ya, biar gak terlalu malam sampai bandung." jawabnya. Akhirnya Nova memutuskan untuk membungkus sisa udangku dan menyuruhku untuk membawanya pulang. Lalu kami main lagi di pantai, sebentar sih lalu kami memutuskan untuk langsung pulang agar tak terlalu larut sampai bandung.
"Pakai lagi ya jaketnya, nanti kita bakal ngelewatin daerah dingin lagi loh." katanya sambil berkemas. "Iya tapi masih gerah." jawabku. "Tapi nanti kalau udah dingin, langsung pakai ya jaketnya." katanya lagi dan langsung mendapat anggukanku.

Ini jalur yang Nova bilang cepat, kami tak perlu sampai bandung dengan melewati kota karena pasti akan macet. Ternyata benar, ketika kami melewati daerah gunung gelap udaranya dingin sekali, dinginnya menusuk. Jari-jariku sudah membeku rasanya. Jalannya banyak belokan, membuatku sesekali protes ketakutan. Tak terlalu ngebut tapi lumayan membuat orang jantungan.

Ketika perjalanan, aku melihat senja. Indah sekali, mataharinya bersembunyi di balik gunung. "Itu senjanya bagus banget!!!! Lihat deh!!!" kataku heboh menepuk pundak Nova sambil menunjuk senja itu. "Aku seneng deh kayak lagi diulangtahunin. Itu gunung apa namanya?" tanyaku penasaran. "Itu gunung papandayan." katanya menjelaskan. "Bagus banget ya, aku seneng banget deh." kataku tak melepaskan pandangan pada senja sepanjang perjalanan.
 
Akhirnya langit mulai gelap, banyak lampu-lampu menyala seperti kunang-kunang. Kami melewati daerah Majalaya, jalannya sepi sekali, hanya ada motor yang kami naiki saja. Sesekali ada kendaraan lain yang lewat, selebihnya hening kembali. Menyeramkan, tak ada lampu jalanan satu pun. Kami hanya dibantu oleh lampu motor. Ini benar-benar mengerikan, aku takut sekali, apalagi aku duduk di belakang dan di belakangku tak ada apa-apa lagi, tak ada kendaraan lain, hanya ada kami, aku jadi takut. Di pinggir jalan kebanyakan pepohonan, seperti hutan, gelap sekali, banyak suara-suara yang menambah ketakutanku. Bahkan pernah ada sesuatu yang menghantam helmku, aku mulai panik. Aku terus mencengkram jaket Nova sambil memejamkan mata, aku membaca surat pendek apa saja yang aku hapal. Aku gemetar, tanganku dingin sekali, jantungku berdetak cepat sekali seperti mau copot rasanya. Aku takut, Nova malah terlihat santai.

Jalanan itu panjang sekali sehingga memaksaku rela berada di jalanan itu lebih lama lagi. Jalan mulai terlihat rusak, banyak sekali turunan yang amat curam entah berapa derajat sudutnya. Nova mengambil tanganku dan menempelkannya pada pinggangnya, menyuruhku berpegangan dengan erat. Aku tak berhenti berkicau, aku takut, aku berisik sendirian sepanjang perjalanan. Ini jalan menurun yang paling curam yang pernah aku lalui, kalau tak hati-hati mungkin kami akan terjatuh. Banyak sekali jalanan seperti itu, membuatku terus berteriak ketakutan. "Gapapa, tantangan. Kalau jadi petulang gak boleh penakut." kata Nova padaku. Aku malah tambah panik. "Aku kan duduk di belakang, lebih serem rasanya tauk!" kataku sebal. Ah ini pengalaman pertama paling seram yang pernah aku alamai. Tanganku dingin sekali, keluar banyak keringat dingin dari pelipisku. Norak.

Setelah kami melalui jalan itu, Nova bercerita kalau di jalan itu memang banyak terjadi kecelakaan mengingat turunannya yang curam, sehingga biasanya mobil tidak bisa mengendalikan kemudi dan kemudian jatuh ke jurang. Yang lebih mencengangkan lagi adalah jalanan tadi dulunya sering dipakai sebagai tempat pembuangan mayat. Kalau bahasa sundanya sih: Soak. Iya parah pokoknya, uji nyali jadinya.
Perjalanan terasa lebih panjang, entah karena lamanya perjalanan yang kami lalui di jalan seram tadi atau entahlah. Kami pulang dengan berbagai macam pengalaman, dari senang sekali sampai takut, semuanya ada, paket lengkap. Benar-benar seperti sedang berulang tahun saja.

Nova rela hati berkeliling dua kali untuk mengantarku pulang, padahal kami lewat antapani dulu, tapi ia baik sekali mau mengantarku pulang lalu berputar lagi ke arah antapani.

Menyenangkan! Tak pernah tak menyenangkan berpetualang dengannya. Seru sekali ya rasanya, kalau diingat-ingat aku jadi pengin tertawa. Terima kasih, Nova.

Komentar

Postingan Populer