Gunung Padang
Kamis, 15 Agustus 2013.
Pukul setengah
delapan tepat, mungkin lewat satu atau dua menit, Nova menjemputku. Aku baru
sadar kalau pagi ini ia mengenakan stelan kantor yang begitu formal. Entah mau
melakukan petualangan atau mengantarnya pergi bekerja. Sebelumnya, kami
berangkat ke kantor Nova untuk absen (aja). Nah, barulah setelah itu kami mulai
petualangan keempat ini. Aku jadi merasa berdosa menemaninya cabut dari kantor,
seperti menemani anak SMA cabut dari sekolah…
Lagi-lagi,
sebelum berangkat dengan Nova, malamnya aku susah tidur. Sebenarnya tak terlalu
penting untuk aku ceritakan, sih. Tapi hal tersebut adalah akar dari
ke-ngantuk-an-ku pagi ini, aku jadi jarang mengajak Nova mengobrol sepanjang
jalan, selain karena mengantuk, juga karena takut mengganggu. “Masih pagi,
sudah banyak ngomong” mungkin saja Nova memendam satu kalimat itu dalam hatinya
kalau-kalau aku banyak bicara, atau mungkin pembicaraan tidak pentingku dapat
merusak konsentrasinya dalam mengemudi? Bisa jadi, kan? Who knows. Hanya Nova
dan Allah yang tau.
Pagi ini tak
sedingin pagi dari perjalanan-perjalanan yang pernah kami lakukan sebelumnya.
Dengan imut matahari bersinar malu-malu, lumayan menghangatkan badan walau
tidak menghangatkan hati (halah). Sepanjang perjalanan kali ini aku lebih
banyak diam, bicara kalau diajak bicara aja. Kami banyak melewati daerah yang
tak aku ketahui namanya, tapi ada juga jalan yang dulu pernah kulewati walau
(lagi-lagi) aku lupa nama-namanya. Jadinya aku lebih banyak memendam pertanyaan
yang sebenarnya mulutku sudah gatal untuk mengungkapkannya, tapi entah mengapa
pagi ini aku begitu merasa takut mengganggu Nova, aku merasa begitu alim dan
merasa tak pernah cerewet selama 17 tahun aku hidup. Mungkin karena pakaian
formal Nova yang membuatku segan, atau mungkin karena habis lebaran, aku jadi
lumayan punya rasa tak enak hati. Atau mungkin karena… sesuatu. (Sesuatu apa?
Entahlah, aku ngarang-ngarang aja hehehe)
Ketika
memasuki daerah Padalarang, matahari sudah tak seimut tadi pagi. Matahari sudah
mulai rese, ia mau mengeluarkan jurus “hot like fire”-nya, walau belum
fire-fire amat (halah bahasa apaan ini -_-) Jalanan yang kami lalui belum
terlalu padat, satu nilai plus.
Entah di
daerah apa namanya, pokoknya jalan yang kami lalui lurus terus. (Bukan karena
kami alim, sehingga jalanan yang kami pilih adalah jalan yang lurus, bukan. Ini
semakin ngaco.) Kami mulai banyak bercerita, tapi tak jadi karena di jalan itu
pula Nova melajukan motornya dengan amat kencang. Jadi kami mengakhiri obrolan karena
pasti tak akan keruan, berisik-lah, ngeri karena ngebut-lah, sampai sibuk
megangin helm karena takut terbang (eh?)
Pantat kami
mulai kode-kode meminta istirahat. Akhirnya Nova membelokkan motornya dengan
cantik ke sebuah minimarket berwarna merah, dengan gambar lebah yang berinisial
Alfamart (inisial apa nyebutin, Yen? -_-) Tentang seluk-beluk minimarket itu
tidak terlalu penting, jadi kalian harus tetap fokus pada cerita kami.
Dengan
kehebohan nenteng helm, kami berdua masuk ke dalam minimarket tersebut. Nova
mengambil sebuah minuman kaleng untuk membakar tubuhnya sendiri, sedangkan aku
memilih Nu Milk Tea haus berbonus yang aku yakin tak ada bonusnya (Ini
pelajaran bagi kalian, jangan terpana akan janji manis iklan). “Beli Aqua juga,
ya?” katanya sambil berjalan ke meja kasir, ia juga membeli satu bungkus berisi
gulungan-gulungan uang yang akan dibakarnya nanti. Setelah membayar kepada
mbak-mbak yang aku yakin sedang bete, Nova membuka pintu dan menyuruhku untuk
keluar duluan, padahal kulihat tangannya repot memegang ini-itu, ditambah
menahan pintu. Dipikir-pikir pada paragraf ini aku banyak menyebutkan nama-nama
produk, aku rela kok mengiklankan produk kalian dengan cuma-cuma. Kembali pada
pembahasan!
Kami duduk di
kursi depan minimarket tersebut. Ada empat
buah kursi dengan sebuah meja berwarna biru yang bertuliskan Mizone (iklan
dayway). Keempat buah kursi tersebut terisi penuh, oleh kami juga barang bawaan
kami, pokoknya anggap saja Alfamart ini milik kami beserta kursi-kursi ini.
Kami mengobrol, minum, mengobrol, lihat jalan, minum, mengobrol dan begitu
sampai esok harinya (enggak deng). Kami mulai pada pembahasan kemana kami akan
pergi dan akan seperti apa kami di sana.
“Kayaknya
betisku bakalan meledak deh nanti pulang.” Kataku membayangkan betisku benar-benar
meledak dengan ngeri.
Nova
mentertawakanku, jujur saja aku sedikit sangat tercengang mendapati
kabar kalau di Gunung Padang itu kami akan menaiki sekitar 600 buah anak
tangga. That’s why kami membeli Aqua untuk berjaga-jaga.
“600?
Bolak-balik berarti 1200?” kataku syok.
Lagi-lagi Nova
tertawa, lalu mengangguk mengiyakan. Aku mulai tak enak hati, membayangkan akan
segempor apa kaki kami nanti. Nova membuka dasinya sambil sesekali bercerita
tentang tempat yang akan kami kunjungi. Menarik sih, apalagi Nova
menceritakannya dengan enteng. Ia bercerita tentang 600 anak tangga saja masih
sempat-sempatnya tertawa.
“Kalau aku gak
kuat gimana?” kataku pesimis.
“Ya
digendong.” Jawabnya sambil tertawa (lagi).
Kupikir-pikir
Nova tertawa terus, mungkin ia sedang bahagia, entahlah. Setelah selesai
mengistirahatkan pantat juga melepas kehausan, kami melanjutkan perjalanan
lagi.
Jalan lurus
sangat membosankan untuk diceritakan, bukan? Nah, setelah kami kenyang menempuh
jalan lurus, Nova membelokkan motornya ke kiri, entah jalan apa, yang pasti
jalannya sungguh tidak manusiawi. Mulai masuk pedalaman, katanya. Jalannya
bukan aspal mulus seperti kebanyakan, jauh dari kata mulus. Jalannya berbatu,
membuat motor Nova naik turun dan mengguncang isi perut. Entah berapa meter
kami menempuh jalan tidak manusiawi itu, sesekali ada jalan yang (lumayan)
baik, tapi selebihnya jalannya berbatu sampai aku takut jatuh. Di sini matahari
udah hot like… lebih parah dari fire deh pokoknya.
Sepanjang
perjalanan aku sering bertanya berapa lama lagi kami sampai karena jengah
dengan jalan menyebalkan itu, tapi Nova terlihat menikmati, ia lagi-lagi selalu
tersenyum, beda denganku yang sudah meluncurkan banyak omelan tentang jalan
berlubang itu.
Sebelum ke
Gunung Padang, Nova mengajakku ke sebuah terowongan kereta api yang sudah tidak
terpakai. Dari kejauhan sudah terlihat seram, aku benar-benar ragu.
“Kita ke situ
yuk, pake motor.” Ajak Nova dengan enteng.
“Yakin? Kita
gak bakal kenapa-kenapa?” tanyaku tak yakin.
“Enggak, tuh
ada orang pake motor lewat situ.”
Aku menyerah,
Nova menang. Nova mulai melajukan motornya dengan tidak woles karena jalannya
yang tidak woles pula. Setelah masuk terowongan itu, hanya ada motor kami.
Gelap sekali, penerangan hanya dari lampu motor saja, selebihnya gelap. Aku
mulai panik, semakin ke dalam, semakin gelap, jalanannya pun sangat tak
bersahabat. Nova memaksakan sampai aku berulang kali ingin menyerah dan turun
dari motor saja karena takut terjatuh.
“Yaudah kita
balik lagi aja.”
“Balik lagi?!
Ini udah lumayan jauh!” kataku tak woles.
“Tapi kalau
dilanjutin juga kita bakal balik lagi, kalau kesana gatau kemana.”
Aku
bersemangat, berkali-kali memohon untuk berjalan kaki saja, tapi Nova menolak
karena jalannya cukup jauh, padahal jalan yang kami lalui baru sekitar 1/3nya
terowongan itu. Aku menaiki motor Nova dengan hati tak keruan, ingin menyerah,
aku takut sekali gelap! Apalagi aku duduk di belakang, dan tak dapat melihat
apapun saat beberapa kali aku mencoba menoleh ke belakang karena gelap sekali.
Melalui menit-menit
menegangkan itu rasanya melelahkan, menyeramkan dan cukup membuat hati lemas.
Nova malah berkata, “Seru ya.” Sambil tersenyum. Ia mungkin kuat mental, iman,
fisik, lahir dan batin, beda sepertiku.
Kami
melanjutkan kembali perjalanan sambil Nova bercerita tentang kisah di
terowongan tersebut yang membuatku lemas, untung tidak diceritakan di sana atau
sebelumnya, pasti aku tak akan pernah mau masuk ke situ sampai kapan pun.
Setelah
melewati berbagai macam cobaan hidup, dari jalan menanjak, menurun, berbatu
biasa, berbatu sedang, sampai berbatu parah, kami sampai dan langsung
memarkirkan motor. Selebihnya untuk memasuki area Gunung Padang itu kami
berjalan kaki, jalanannya berbatu parah, menanjak. Tapi lagi-lagi Nova
menyemangatiku dengan kalimat, “nikmati” dan senyum itu masih setia membingkai
wajahnya.
Pakaian kantor
Nova tidak aku permasalahkan lagi, kami mendaki gunung lewati lembah (bukan
deng itu mah lagu), kami menyusuri jalanan berbatu dengan matahari yang lagi
hot-hotnya banget. Belum masuk ke tempatnya aja, sudah ngos-ngosan.
Kami mulai
menaiki anak tangga pertama, yang aku tak tau hitungannya karena tangganya
terbuat dari batu-batu yang tak beraturan. Curam sekali, baru beberapa anak
tangga saja aku sudah ingin angkat tangan, apalagi nanti, mungkin angkat kaki
(apalah garing). Kami menaiki batu-batu itu satu persatu sambil menyemangati
satu sama lain walau sering aku mengeluh ingin menyerah, belum lagi keringat
yang mulai menetes-netes di pelipisku.
Payah, aku
merasa tidak keren ketika pahaku mulai pegal, betisku mulai nyut-nyutan. Nova
mengiringiku menaiki tangga-tangga itu dan sesekali menyuruhku beristirahat
setiap kali aku terlihat kelelahan. Entah pada anak tangga keberapa, kira-kira
sudah tigaperempat perjalanan, dadaku terasa ngilu sekali, detak jantungku juga
tak keruan, tapi aku tak mengatakannya pada Nova karena takut dibilang payah.
Sementara sakit dada itu masih merajalela, aku mempercepat langkahku agar cepat
sampai. Setelah sampai, kami duduk-duduk dulu. Aku diam meredakan keluhanku yang
sedari tadi mengganggu, kepalaku agak pening tapi aku menahannya, diam-diam aku
menikmati rasa sakitku, benar apa yang Nova bilang, mungkin lain kali aku akan
terbiasa dengan kalimat manjur ini.
Nova
mengeluarkan senjatanya dan mulai memotret, aku diam, duduk, memperhatikan Nova
seperti anak hilang. Lama-kelamaan rasa sakit itu hilang, tapi rasa pegal di
pahaku sepertinya mulai beraksi. Kami naik lagi ke atas setelah Nova memotret
seorang pedagang rujak beserta jambu-jambunya. Di atas kami beristirahat di
sebuah warung, kami mengobrol, menganalisis banyak hal, Nova memberi banyak
informasi padaku. Dengan pakaian formalnya, aku seperti sedang bersama guru.
“Habis ini
kita makan, ya.” Ajaknya yang sepertinya sudah lapar maksimal.
“Dimana?”
“Di luar.”
Kami pun
bergegas pulang dan menuruni ratusan anak tangga lagi yang teratur, beberapa
kali aku mencoba menghitungnya tapi lagi-lagi lupa karena Nova sering kali
memecahkan konsentrasiku dengan mengajakku berbicara. Kupikir naik tangga yang
entah ada berapa ratus buah tadi, tak begitu terasa, mungkin karena kami
mengobrol terus.
Saat
bersemangat menuruni tangga-tangga itu, Nova mengajak ngobrol seorang bapak
yang kebetulan lewat. Entah apa yang mereka bicarakan, karena ada beberapa kata
yang tak aku ketahu artinya tapi kira-kira mereka sedang membicarakan tempat
ini. Nova menjelaskan padaku kalau di tempat itu ada sebuah mitos tentang entah
gendang atau batu, entah batu berbentuk gendang yang apabila terangkat oleh
seseorang, maka orang tersebut akan mendapat rejeki, lebih kurang seperti itu,
tapi katanya batu itu sudah diamankan di suatu tempat.
Nihil. Tak ada
yang dapat kami makan setelah mengunjungi beberapa tempat makan. Perut Nova
pasti kecewa berat, akhirnya kami ke tempat parkiran motor dan sholat dzuhur
terlebih dulu. Oh iya, hari ini Nova banyak lupa. Pertama, ia lupa mencabut
kunci motornya ketika selesai parkir, kedua, ia lupa menaruh kartu parkir
sampai sepanjang jalan pulang ke parkiran, ia sibuk menunduk mencari kartu
parkir tersebut. Hoalah, dasar Nova.
Pulangnya kami
menempuh jalanan tadi, lagi-lagi perutku terasa diaduk-aduk. Kasihan Nova,
sepertinya sudah tidak bisa menahan rasa laparnya. Apalagi ia mengemudikan
motor, pasti capek. Sebelum benar-benar pulang, kami ke terowongan itu lagi.
Aku melihatnya memotret dan tak mau sekali pun mendekat ke arah terowongan
setelah mendapat cerita mistis tentang tempat tersebut. Nova juga mengajakku
memotret stasiun yang tak terpakai pula, seram. Banyak coretan yang entah apa,
dimana-mana, kebayang kalau malam hari… Hih.
Nova ketauan
betul lapar, karena sepanjang perjalanan ia selalu bilang untuk berhenti makan
dulu. Dan sampai lah kami pada sebuah mall- memang sih kalau dibandingkan
dengan mall-mall di Bandung, kalah. Nova mengajakku makan makanan cepat saji.
Nova kalap, di piringnya ada dua buah ayam, dan satu nasi. Karena aku enggan
makan nasi, akhirnya nasi bagianku mendarat di piringnya. Hahahaha aku senang
melihat Nova makan, banyak tapi cepat habis. Mungkin kalau tujuhbelasan ia
sering ikutan lomba makan kerupuk (gak nyambung -_-).
Perut kenyang,
hati riang. Itulah ekspresi yang tergambar dari wajah Nova, sekitar pukul
setengah lima sore, kami bergegas menuju Bandung.
Cerita
perjalanan pulang kali ini aku skip aja karena terlampau panjang juga terlampau
malam. Sekarang sudah pukul setengah satu malam, aku harus mengistirahatkan
tubuhku, apalagi pegal-pegalnya semakin kurang ajar seperti ini, sakit sekali.
Hehehe maaf curhat. Belum lagi sekarang malam Jumat, kamarku hening, hanya ada
suara keyboard komputerku, belum lagi aku teringat perjalanan horror kami tadi,
belum lagi… sudahlah.
Sampai di sini
dulu ya cerita perjalanan keempatku bersama Nova, mungkin tempat-tempat yang
pernah kami kunjungi bisa menjadi sebuah panduan buat kalian yang ingin
melakukan perjalanan berbeda dari kebanyakan orang.
Satu kata
untuk hari ini, SERU! Eh dua kata deng, SERU BANGET. Eh SERU BANGET, T O P B G
T deh. Semoga kita dipertemukan dengan perjalanan-perjalanan selanjutnya ya!
Bye J
Lam kenal.sist tau judul novel/teenlit tentang cowok smu pendiam yang ternyata bekas anggota geng dan gara gara tu ceweknya di smu di culik anggota geng lainnya..klo ada info ya ke blog saya ya.. just-agieta.blogspot.com...lg nyari bgt ni...thx so
BalasHapus