Kota Tua



7 September 2013
Perjalanan terpagi yang pernah kami lakukan! Sekitar pukul 06:25, Nova menjemputku. Ah akhirnya kami melakukan perjalanan lagi setelah beberapa minggu rencana gagal, karena Nova sakit waktu itu. Pagi ini aku disambut oleh senyum khasnya, lagi-lagi senyum itu yang pertama kali muncul. Ya, Nova langsung mengemudikan motornya menuju Stasiun Bandung. Hahaha entahlah, senang sekali rasanya bisa naik kereta.
Setelah melakukan administrasi, Nova dengan jagonya belok sana-belok sini dan mencari kereta tujuan kami. Hebat, aku sih bingung dan malah sempat ada pikiran takut tersesat. Setelah duduk pada kursi kami masing-masing, kami menunggu beberapa saat dengan mengobrol santai. Kereta kami berangkat pukul 07:15, masih ada waktu sekitar 20 menit lagi. Aku duduk di dekat jendela, dan Nova di sebelah kiriku. Kereta yang kami naiki ini kereta argo parahyangan tujuan Stasiun Gambir. Bangku kami bernomor 7, kata Nova sengaja, biar kami ingat kalau perjalanan ini kami lakukan pada tanggal 7.
Udara di dalam kereta ini dingin, namun masih ada sinar matahari yang menembus kaca jendela. Kami melakukan sarapan di dalam kereta, Nova memesan dua porsi nasi goreng, air mineral untukku, dan teh untuknya. Kami sarapan sambil terus bercerita. Banyak sekali cerita baru yang ia ceritakan padaku, dan tentu selalu menarik untuk didengar. Sesekali ia menunjukkan sesuatu dan menceritakan kisahnya padaku, seperti sedang study tour aja.
Di dalam kereta kami hanya duduk manis dan sesekali, seringkali ngegaring dan menertawakan kegaringan kami sendiri. Nova kurusan, entah karena sakit atau diam-diam… ia diet. Eh gak mungkin deng, Nova bukan tipe orang seperti itu hahaha. Setelah teriakan perut dibungkam oleh nasi goreng, aku merasa kami lebih banyak diam, walau masih sering mengobrol sih, cuma rasanya berbeda aja, ngobrol di motor dan ngobrol di kereta. Kalau di kereta aku sering kali bingung harus ngapain.
Tibalah kami di Stasiun Gambir pada pukul 10 lebih, di stasiun itu ramai orang sampai aku sempat takut kalau-kalau terpisah dari Nova. Setelah melewati perjalanan panjang menuju pintu keluar, Nova membimbingku menuju halte busway, ini for the first time juga. Rasanya… cetar membahana gitu, karena selain banyak guncangan yang membuat hampir jatuh kalau tak berpegangan, juga karena kondektur wanitanya memiliki tingkat kesangaran di atas rata-rata, sampai-sampai Nova sering sekali diatur-atur oleh wanita itu hihihi, kata Nova, wanita-wanita itu memang harus strong kalau mereka ingin survive, karena kulihat wanita sangar lain yang berada di halte berikutnya, entah nama tempatnya apa, aku sama sekali tidak tau- hanya turun, naik membuntuti Nova.
Sebelum benar-benar sampai tujuan, kami menaiki satu busway lagi, dan entah nama jurusannya apa, yang aku tau kalau busway semuanya sama hahaha. Nova yang sudah pro, belok sana-sini udah gak pakai hati, ia hapal benar jalan-jalan di Jakarta karena katanya ia pernah tinggal di sini selama beberapa bulan. Mulai hot-hot gimana gitu saat kami tiba di Kota Tua Jakarta, ramai sekali. Padahal dulu tak seramai ini.
Di Kota Tua aku menemani Nova memotret, mencari momen tepat, kadang kala juga ia iseng memotretku. Entah ada berapa banyak manusia yang tersebar di tempat itu, rasanya pusing sekali melihat banyak orang hilir mudik. Ada yang nongkrong-nongkrong gak jelas, foto-foto, jualan, pacaran, yang praktek ngomong bahasa inggris sama bule, debus, manusia batu, ah pokoknya komplet deh. Bukan Nova kalau gak iseng, seringkali ia membidikkan kameranya ke arahku, entah tampangku semengerikan apa di kameranya nanti, aku benar-benar tidak ingin tau. Karena pasti… jelek.
“Yen, mau ya difoto?” katanya sambil menatapku dengan kamera di tangannya. Aku hanya menggeleng dan menutup muka. “Ayo dong, senyum. Jangan cemberut terus.” Bujuknya lagi. “Aku gak bias senyum Nov.” balasku tak mau kalah. Ya kira-kira seperti itulah kami, orang yang gemar memotret bertemu dengan orang yang enggan dipotret, seperti minyak dan air.
Entahlah, tapi aku pikir perjalanan seperti ini kurang cocok untuk kami, karena aku rasa kurang menantang, padahal kami kan biasanya mendatangi tempat yang jauh dari peradaban, tanpa sinyal dan tanpa anak-anak “gaul” seperti di sini ini nih. Tapi sejauh ini aku senang masih bisa menemani Nova, walau seringkali ada rasa tak enak hati karena selalu enggan dipotret. Aku merasa useless aja menemani  Nova tapi gak bisa membantunya. Matahari tak terik tapi hawanya, hawa neraka banget. Beberapa menit sekali Nova menyeka keringatnya yang bercucuran di pelipis sebesar biji jagung. Nov… Nov…
Setelah itu kami melihat pertunjukkan seorang bapak dengan muka penuh amarah memecut lantai kota tua itu. Pertunjukkan yang sangat aneh, hanya membuat suasana berisik. Di dalam pertunjukkan itu bahkan ada seorang anak yang dibungkus kain putih seperti pocong dan berkali-kali mendapat pecutan bapak tadi. Seyeeem kaka L
Setalah Nova banyak memotret di Kota Tua, kami pun keluar dari tempat ramai itu. Aku mengikuti Nova berjalan, kami kembali menggunakan busway. Setalah menunggu lumayan lama, kami pun menaiki busway tujuan kami. Nova menyuruhku untuk duduk, sementara ia berdiri. Sampai pada pemberhentian selanjutnya, kami turun dan menunggu busway lagi untuk sampai ke Gambir. Namun buswaynya tak kunjung datang setelah beberapa lama kami menunggu.
“Yen, naik taksi aja yuk? Mau gak?”
“Hah? Emang kenapa?”
“Buswaynya lama banget.”
“Kita turun ke bawah dan pake taksi juga sama-sama makan waktu.”
“Daripada nunggu lama. Yuk?”
Akhirnya dengan Nova yang agak terburu-buru, aku mengikutinya dari belakang, turun ke bawah untuk mencari taksi. Tak lama kemudian, ada taksi kosong lewat, Nova duduk di depan sebelah supir, sementara aku duduk di belakang. Panas, macet, jakarta lebih ngeselin dari Bandung. Sementara Nova mengobrol dengan supirnya dan entah apa yang mereka bicarakan, aku hanya diam sepanjang perjalanan. Sampai akhirnya sebuah tangan membangunkanku, dan ternyata itu tangan Nova. Kami sudah sampai di Gambir, sepanjang perjalanan tadi aku ketiduran, dan rasanya kepergok tidur dan dibangunin itu… malu, apalagi ketika Nova membangunkanku, samar-samar si pak supirnya ngeliat gitu. Sumpah, ini bisa masuk daftar hal paling memalukan selama 17 tahun aku hidup.
Masih dengan kesadaran yang belum pulih, aku turun dari taksi. Nova membimbingku memasuki stasiun Gambir. Kami berjalan di sebuah koridor yang panjang untuk mencapai musola. Kami pun shalat dulu. Kami punya waktu hanya sekitar satu jam lagi, kereta untuk kami pulang mulai berangkat sekitar pukul tiga sore. Karena keterbatasan waktu, akhirnya kami duduk di sebuah minimarket, Nova membeli minum dan sebuah camilan berglukosa, mungkin untuk menambah ATP dalam tubuhnya karena kelihatannya ia begitu capek memotret dan mengeluarkan banyak keringat.
Ponselku bergetar, ada line masuk, dari Nova. Aku sedikit bingung melihatnya, untuk apa kami duduk bersebelahan tapi Nova mengirimku pesan. Setelah aku buka… L Hal memalukan tadi ternyata belum benar-benar berakhir, karena ternyata foto yang Nova kirim lewat line itu fotoku sedang tertidur di taksi tadi. Tanpa sepengetahuanku, Nova mengambil foto itu, memalukan sekali. Aku menatapnya dengan rasa ingin memasukan muka ke dalam kresek, Nova malah balas tersenyum. Pantes ada perasaan tak enak…
Setelah beberapa lama memperdebatkan foto itu, aku menyerah, nasi sudah benar-benar menjadi bubur yang menjijikan, biarlah Nova mengabadikan kenangan memalukanku itu. Walau sebenarnya masih ada secuil harapan yang tersimpan, semoga saja foto itu mendadak hilang dari ponselnya, tapi… ah sudahlah.
Nova mengajakku untuk naik ke atas, sebelumnya, tiket kami diperiksa dulu oleh petugas dan dicap dengan tidak woles. Kereta kami datang sekitar setengah jam lagi. Di tempat ini begitu sepi, hanya ada beberapa orang yang duduk menunggu, Nova mengeluarkan kameranya lagi dan pamit untuk memotret di sekitar tempat itu. Aku pun duduk sendirian, hening sekali tempatnya, sepi sunyi senyap.
Nova kembali setelah beberapa lama, dan kami pun menunggu sebentar karena setelah itu kereta kami tiba. Kami menunggu penumpang yang turun terlebih dulu, dan kami masuk lalu duduk di kursi nomor 7, lagi-lagi 7, Nova sengaja memesan kursi ini agar ingat kalau kami melakukan perjalanan ini pada tanggal 7, dasar Nova hahaha.
Sudah masuk waktu sore ketika Nova menawariku untuk makan siang di dalam kereta. Yang tadi saja masih membuatku kenyang, jadi aku menolaknya dengan halus, tapi Nova sepertinya bukan tipe orang yang tega membiarkan anak SMA mati kelaparan. Sampai-sampai Nova mencegahku untuk tidur karena ia ingin memesan makan. Lalu seorang mbak dan mas pelayan kereta api berseragam merah menghampiri kami,
“Selamat sore, mau pesan apa, Mas?” kata mbak-mbak tinggi itu.
Nova meminta buku menu dan memperlihatkannya juga padaku. Aku menggeleng, tapi Nova teguh pendirian.
“Mau makan apa? Nasi rames aja ya samain?” tanyanya padaku.
Aku menggeleng, “Tadi aja makanku gak habis, Nov.”
“Ya gapapa, yang penting perut kamu keisi, biar gak masuk angin.”
“Tapi aku gak mau.”
Sementara kami berdebat, kedua orang itu terus menunggu keputusan kami, malu sekali. Pada akhirnya Nova memutuskan sendiri untuk membeli 2 porsi nasi rames.
“Nov… Aku gak enak ah, tadi aja sarapanku masih bersisa banyak.”
“Tenang aja makannya, isi perut dulu biar gak sakit.”
Dan aku pun malas mendebat Nova lebih lanjut, aku membungkam mulutku rapat-rapat dan pura-pura melihat ke arah jendela. Sementara itu, aku melihat kedua penumpang yang duduk di depan kami sedang berfoto-foto, cowoknya agak feminim gitu dilihat dari gayanya dalam foto, aku pun senyum-senyum sendiri melihatnya.
Makanan kami tiba, Nova membantu mengeluarkan meja di tempat dudukku. Kami pun mulai makan. Selama kami makan, kami terus mengobrol, Nova bercerita panjang lebar dan kami sesekali tertawa. Nova bahkan nekat memakan cabe rawit sebesar kelingkingku, biar badannya hangat katanya hahaha padahal sih kayaknya setelah itu dia ingin sekali menangis, haha becanda deng, Nova bukan orang lemah kayak gitu.
“Ya Allah, Nov… makanan kamu udah habis.”
“Tenang aja, ditungguin kok.”
“Makananku masih banyak, gimana kamu nunggu kalau makanan kamu aja udah habis.” Kataku agak panik mempercepat makanku.
“Ya tenang aja.” Katanya enteng sambil membereskan mejanya, tinggal aku sendiri yang makan. 
“Nov, kita mulai makan dari jam berapa sih? Terus aku udah makan berapa lama ini?”
“Hm, sekitar 45 menit.”
“Ya Allah, leletnyaaa.”
“Tenang aja, ditungguin.”
Sementara itu, aku berusaha sebisaku menghabiskan makanan, setelah sarapanku tadi tak aku habiskan, aku jadi merasa tak enak hati sama Nova. Jadi aku mencoba menghabiskannya, walau pada detik-detik perut minta berhenti, aku menyerah juga.
“Udahan ah Nov makannya.”
“Give up?” tanyanya sambil membantuku membereskan piring dan meja di tempat dudukku.
Aku mengangguk pasrah.
“Ya udah gapapa, yang penting makan."
Ya seperti itulah kami dalam perjalanan pulang di dalam kereta. Kulihat lingkaran merah di arah barat, mungkin memang bukan senja yang aku harapkan, tapi senja itu sebagai pengingat. Pengingat kalau perjalanan kali ini sebentar lagi akan berakhir. Setiap meter pergerakan kereta ini, mempersempit ruang temu kami. Semakin dekat kami dengan tujuan, semakin dekat pula kami akan dipisahkan dalam perjalanan kali ini…
Bahkan dalam perjalanan pulang di dalam kereta, terbersit rasa sedih karena harus mengakhiri perjalanan kali ini, aku juga sempat berharap kalau keretanya melaju pelan-pelan saja biar bisa lebih lama. BENERAN SEDIIIIIIH TAU :-(

Komentar

Postingan Populer