Gunung Galunggung



14 September 2013
                Nova menjemputku sekitar pukul 9 pagi. Awalnya ia bilang akan menjemputku pukul 8, tapi ia punya urusan dulu sebentar katanya. Lumayan siang sih berangkat pukul 9.
                Agar gak memakan waktu, Nova pun segera melajukan motornya. Udara sudah lumayan hangat, karena malu-malu matahari sudah muncul. Semuanya terasa woles dan menyenangkan, tapi enggak ketika kami melewati jalan besar yang entah itu dimana. Nova lumayan ngebut, aku memegangi tali helmku kuat-kuat supaya gak terbang, sementara badan Nova terlihat membulat dari belakang karena jaketnya mengembung seperti balon. Gak banyak percakapan selama perjalanan, bukan karena gak ingin mengobrol, tapi laju motor Nova yang jauh dari kata woles membuatku enggan mengganggunya.
                Ke-enggak-woles-an berikutnya terjadi, bukan berasal dari Nova, tapi dari kerumunan orang yang terlihat dan membuat jalanan lumayan macet. Banyak pengendara motor yang berhenti dan turun untuk melihat kejadian itu. Kata Nova ada kecelakaan, karena kulihat ada truk besar berwarna hijau dengan motor yang tergeletak di samping truk itu. Ada polisi dan banyak orang yang turut mengerumuni, kulihat juga ada orang yang sudah ditutupi koran di samping truk besar itu. Berarti pengendara motor itu sudah meninggal… aku jadi ngeri sendiri. Nova tetap melajukan motornya, padahal sih aku masih pengin nonton.
                Oke, lupakan masalah kecelakaan tadi. Sebenarnya sih gak penting ya tapi bingung mau cerita apa lagi. Lanjut perjalanan, jalanannya udah mulai gak woles, Nova belok juga gak pakai hati, jadi ngeri apalagi banyak bus dan truk besar yang lewat. Ah sepertinya asam laktat sudah mulai memenuhi pantat, pegel banget, belum lagi ngantuk. Sesekali Nova ngomong juga aku bales asal, karena aku seringkali ketiduran bentar, jadi otak belum bener-bener nyambung.
                Setelah menemukan sebuah tempat perisitirahatan di dekat yang gentong-gentong itu loh. Aku turun dari motor dengan rasa pegel yang bikin pengen copot pantat dulu (lah-_-). Nova memesan secangkir kopi, ia juga menawariku permen lucu buat anak kecil dan mentertawakanku, aku kan bukan anak kecil! Ih dasar Nova, mana ibu-ibu yang jualannya ikut ketawa lagi.
                Duduk-duduk manis dan berharap pegelnya langsung ilang. Kami banyak bercerita dan ngegaring, bukan kita namanya kalau gak garing (lah? -_- hahaha).
                Setelah beberapa lama istirahat, kami pun mulai malanjutkan lagi perjalanan yang katanya tinggal satu setengah jam lagi, ah Nova sering ngegos, kalau dia bilang satu setengah jam berarti nyampenya 2 jam lagi.
                Kami memasuki kawasan jauh dari peradaban karena dilihat jalannya mulai jelek. Ketika berada di sebuah persimpangan… Nova berhenti, dilihat dari wajahnya, Nova tidak meyakinkan. Ia pun memilih jalan sebelah kanan. “Nov, emang bener ke sini, ya? Sok tau ih.” Kataku takut tersesat. Lalu ia memutar arah ke jalan lainnya, dan setelah bertanya kepada warga sekitar, ternyata jalan yang Nova pilih sebelumnya udah benar hahaha aku jadi malu sendiri.
                Jalanannya memang gak bersahabat, apalagi seringkali kita nemu persimpangan dan bingung harus pilih jalan yang mana. Akhirnya kami pakai GPS manual, yaitu nanya ke orang sekitar hahaha. Pertama, kami dapat narasumber yang kayaknya lagi nongkrong dan gak pakai sendal, om-om gitu. Nova pun bertanya pakai bahasa sunda. Si narasumbr kami mencerna pertanyaan selama beberapa detik, lalu mengangguk dan geleng-geleng yang bikin dia benar-benar menjadi narasumber yang tidak dapat dipercaya.
                Narasumber kedua sih lumayan cekatan dalam menjawab, pasti di sekolahnya pinter hahaha, tapi didengar dari penjelasannya sih agak ribet juga. Akhirnya kami putar balik dan mengikuti petunjuk yang kami dapat tadi.
                Cuaca berawan dan udara mulai dingin ketika kami hampir sampai gerbang pertama untuk masuk kawasan gunung Galunggung itu. Jalanan terlihat menanjak dengan curam dari kejauhan. “Nov, gak sanggup. Nanjak banget.” Kataku mulai heboh di balik punggungnya. Nova kalem-kalem aja dan bikin aku gemas. “Nov, gak mau ah takut mundur lagi.” Kataku lagi. Dan begitulah aku mengoceh selama perjalanan, karena jalannya kebanyakan menanjak. Udara terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya, jari-jari tanganku sudah memucat kedinginan.
                Dan… jeng jeng jeng jeng. Sampailah kami pada tempat wisata tersebut, ada 620 anak tangga yang menunggu untuk kami pijak satu persatu. Tangganya memang lebih teratur daripada di Gunung Padang, tapi karena tak securam di Gunung Padang, ujung tangga di atas itu jadi kelihatan, tinggi sekali dan bikin ngeri. Satu, dua, tiga, empat… dan pada angka-angka awal napasku sudah mulai memburu. Aku harus mengatur napasku yang mulai tersengal-sengal. Untung udaranya tak sepanas di Gunung Padang. Pegangan tangganya berwarna oranye sih, coba warna hijau, pasti bisa lebih semangat (lah-_-).
                Keringat udah mulai bermunculan di pelipis, napas juga belum bisa diatur. Aku lihat anak kecil juga naik, aduh ayahnya tega banget ya ngebiarin anaknya naik tangga aborsi ini.
                “Untung kita udah pernah dilatih di Gunung Padang.”
                “Hahahaha iya, latihan biar pas tes olahraga di sekolah gak pegel-pegel lagi.”
                Belum setengah perjalanan, asam laktat udah ngumpul di betis dan paha. Aku lihat tangga yang harus kami tempuh masih banyak.
                “Ayo dong, masa kalah sama anak kecil.”
                “Hahahaha enggaklah! Enak aja!”
                Akhirnya sampai di puncak, tapi semua rasa capek kebayar sama view yang bener-bener wow. Gunungnya terlihat jauh lebih besar dibanding pas kami lihat di perjalanan tadi (lah iya lah -_-). Gunung itu tertutup awan yang perlahan-lahan bergerak, lucu banget. Semuanya hijau dan terasa dingin. Kami pun duduk di sebuah warung tenda yang menghadap gunung itu.
                Nova membeli sebotol air yang aku minum hanya seteguk. Lalu Nova mengeluarkan kameranya dan mulai memotret. Awan itu menghalangi katanya, jadi bikin hasil fotonya kurang bagus.
Tak terlalu ramai orang, baguslah. Hanya ada segelintir manusia yang narsis foto-foto dengan gaya yang hampir bikin diri mereka sendiri OD. Hahaha tapi lumayan lah buat hiburan. Nova berhenti dulu untuk makan siang, mana makannya banyak banget lagi. Nov… Nov…
Sempet kena omel Nova juga sih gara-gara aku gak mau makan siang dan minum pun cuma sedikit.
“Makan dulu ya, biar gak masuk angin.”
“Enggak ah, Nova aja.”
“Di sini jauh dari tempat makan loh.”
“Ya udah bukan karena itu, emang akunya gak mau makan.”
Ya begitulah, lumayan tegang juga dinasihatin sama Nova ehehehe
Lumayan lama kami berada di tempat itu, sekitar pukul tiga sore kami memutuskan untuk pulang. Semangat 620 tangga lagi! Coba aja turunnya pakai flying fox… hahaha ngarep. Kami pun menuruni tangga demi tangga satu persatu, tak terlalu terasa seperti sebelumnya sih.
                Kebodohan. Lupa bawa jaket, baru inget pas pagi Nova nanya soal jaket. Kalau balik lagi dan bawa jaket pun kayaknya bakal susah buat diem-diem keluar rumah lagi -_-. Alhasil sepanjang perjalanan badan aku serasa dikepung dan disiksa idup-idup sama angin yang liarnya mana ada, salah aku juga sih… bodoh.
                Nova sepanjang jalan nawarin makan, nawarin minum, nawarin tolak angin biar badan aku agak anget katanya. Tapi lagi-lagi aku gak mau, aku jadi takut Nova kesel, soalnya sepanjang jalan kita diem-dieman gitu.
                Sebelumnya, kami berhenti dulu di minimarket. Aku cuma beli minum dan lagi-lagi cuma diminum seteguk, Nova ngingetin aku lagi soal pola makan, soal diet, soal semua yang aku jalanin itu gak bener. Katanya aku belum bisa peduli sama diri aku sendiri, mulai dari pola makan yang gak bener, Nova bilang dia takut setelah pulang dari perjalanan ini aku malah sakit. Aku jadi sedih sendiri dengernya, sering banget aku ngerepotin Nova, sekarang lebih ngerepotin lagi. Dan karena nasihat Nova itu… pulangnya aku mau makan, walau sedikit banget. Hehehe curhat -_-.

Komentar

Postingan Populer