Curug Malela

26 Oktober 2013
Ketemu lagi dengan trip berikutnya, yeay!

Aku dan Nova berangkat dari Bandung pada pukul setengah sembilan pagi, walau kata Nova kami akan pergi ke daerah yang masih di lingkaran Bandung- bagian bukan peradaban tentunya. Belum ada gambaran bagaimana perjalanan kami kali ini, sampai akhirnya...

Kami melewati Cimahi, melewati banyak daerah yang tidak kuketahui namanya. Banyak pasar dimana-mana, karena dalam satu trip ini kami melewati lebih dari tiga pasar berbeda. Cuaca terlihat cerah, belum ada tanda-tanda akan turun hujan, syukurlah.

Sekali lagi Nova menculikku sejauh ini, yang ternyata masih di Bandung. Kami melewati berbagai macam jalan, mulus, mulus tapi palsu, sampai rusak. Banyak anjing, apalagi kalau ada di daerah pemukiman penduduk.
 
Di tengah perjalanan, Nova memberhentikan si molang di sebuah mini market.
Kata Nova sebentar lagi kita akan membakar banyak kalori di perjalanan, makanya kita bekal minum dan Nova membelikanku es krim.
Dan di sinilah kami diuji...
Aku sempat berpikir jalan yang akan kami tempuh lebih kurang sama seperti trip ke Sanghyang Taraje, tapi aku menelan kembali anggapan itu dengan getir setelah dihadapkan pada kenyataan- JALANANNYA HANCUR PARAH. 

Awal masuk ke daerah tersebut, kami disambut dengan jalan berbatu yang kecil-kecil dengan pepohonan menjulang tinggi serta kebun teh di kanan-kiri. Lalu kami melewati jalan yang dinaungi pohon bambu, gelap dan mencekam, membuat otak berjelajah begitu jauh tentang hal-hal misting- eh mistik. Kalau misting tempat makan. Garing, skip.

Di sepanjang jalan banyak sekali poster kecil sampai baligo besar tentang caleg. Malah kadang itu semua membuat aku dan Nova tertawa melihatnya. Konyol. Hampir semua batang pohon ditempeli poster-poster yang menurutku merusak keindahan, menyampah. Tapi begitulah manusia, tak pernah puas- yakali kalau masang SATU buah poster kecil juga percuma, itu hanya akan membiarkan mereka sengsara menghadapi persaingan caleg ahahaha. Ada yang namanya Sally, mana background posternya kuning, jadi kaya Sally yang ada di Line, dan kayaknya dia yang paling hits and gaul soalnya posternya paling banyak, bahkan sampai pelosok. Selebihnya ya... Foto-foto dengan gaya seperti foto ktp. Tapi ternyata ada foto satu caleg yang ganteng banget, tolong gantengnya garis bawahi ya. Pokoknya mukanya pacar-able gitulah.

Sekitar lebih dari 10 kilometer kami harus berlapang dada melewati jalan yang tingkat keparahannya udah ga banget. Berbatu, nanjak dengan begitu curam. Yang paling parah, di beberapa bagian tapi sering juga sih, jalanan berlumpur, becek, licin, ih pokoknya ga banget deh benci!

Dan semua ketidakberuntungan berawal dari sini. Aku memaksa turun dari motor, dilihat begitu parah jalan oleh lumpur yang iyuwh, aku lewat jalan di sebelah kiri, aku kira apa yang aku pijak adalah jalan yang padat ternyata... Jackpot!!! Itu lumpur, akhirnya kaki kiriku terjebak di dalam lumpur sana, gak bisa digerakin, sementara itu Nova masih ada di atas motornya.

"NOVAAAAA KAKI AKU GAK BISA BERGERAAAAK!!!" Kataku heboh, tapi aku gak panik dan gak juga malu ahaha malah aku sempat menertawai kebodohanku itu. Nova terlihat tertawa di sana sementara aku berjuang mempertahankan hidup. Akhirnya kaki aku terbebas setelah aku beberapa saat berjuang mengeluarkannya dari dalam lumpur yang mengotori sandal dan kaos kakiku. Aku hanya bisa tertawa meratapi nasib atau bisa dibilang suatu kebodohanku itu.

Aku menghampiri Nova, memperlihatkan kakiku yang baru saja tenggelam di jebakan lumpur, sebelah bersih, sebelah kotor.
"Tuhkan tadi udah dibilangin kaos kakinya dilepas aja."
"Iya... Sih." kataku menyesal.
Nova tersenyum ke arahku, aku balas dengan senyum menderita. Aku melepas kedua kaos kakiku di jalan, dan nyeker sesaat. Lalu Nova bergegas turun dari motornya dan... Mencuci sandalku, baik banget. Nova bangkit, merogoh tas dan memberiku kantung plastik.
"Nih, kaos kakinya taro dulu di sini, nanti dicuci di sana."
Aku menuruti sarannya dan melihat ke arah Nova dengan tatapan menyerah.
"Nov... Cape. Aku nyeker aja boleh gak?"
"Boleh boleh"
Tapi apa daya, aku harus jalan dulu sebentar melewati jalan yang parah itu, dan sangat gak memungkinkan untuk nyeker.
Malah sempat, setelah aku naik motor dan sandalku tertinggal karena licin.
"EEEEH NOV TUNGGU NOV! BERHENTI DULU." kataku heboh sambil menepuk-nepuk pundaknya.
"Sandal aku lepas di sana."
Garing, alay, kenapa harus lepas. Aku berlari ke belakang untuk mengambil sebelah sandalku. Ahahaha selalu aja bikin Nova repot.
Perjalanan selanjutnya kami tempuh dengan- kalau jalannya rusak parah, aku akan turun, jalan dan naik lagi ke motor. Turun, jalan, naik. Turun, jalan, naik. Begitu seterusnya sampai bodo.
Lama rasanya di perjalanan, ditambah jalan yang rusak, ditambah ada aja kejadian yang menimpaku aha sial nih gara-gara semalam potong poni:(
Sepanjang perjalanan, aku heboh teriak-teriak. Entah keluhan, menyemangati Nova kalau di depan akan menghadapi jalan yang nanjak dan curam atau rengekanku untuk turun karena takut jatuh. Sementara aku heboh seperti api, Nova nampak kalem sedingin es. Entah jaim atau emang di dalemnya juga deg-degan nahan takut ahaha.
Setelah melewati ribuan rintangan, akhirnya kami tiba di tempat tersebut dan rintangan kami belum benar-benar berakhir, karena untuk ke air terjunnya, kami harus berjalan turun lebih kurang satu kilometer. Astaghfirullah- batinku tak habis pikir.
"Nov, satu kilometer tuh kira-kira segimana?"
"Kayak... Dari rumah kamu ke pusdai."
Wth!!! Jauh banget, batinku kesal.
Awalnya kami turun dengan bantuan anak tangga kecil-kecil, di kanan kiri kami banyak pohon menjulang tinggi, seperti hutan, naik turun dengan begitu curam, karena jalan gak selalu mulus... Aku sempat hampir menyerah karena kakiku mulai dipenuhi asam laktat. 
"Nov aku cape" belum menginjak daerah itu saja aku sudah mengeluh.
"Bersyukur masih ada tangga ini."
Aduh Nova ini berhati malaikat sekali... Malu jadinya.
Dan jalan ini memang diperuntukkan bagi petualang, bukan orang yang manja dan menye-menye tapi ternyata aku termasuk yang menye-menye karena pada titik akhir untuk mencapai air terjun, aku enggan turun, karena jalan turunnya bukan berupa jalan, melainkan bebatuan besar yang licin dan curam. Aku takut jatuh. Aku akhirnya bertahan di atas, sementra Nova sukses melewati rintangan itu. Aku merasa sangat amat cupu, apalagi ada orang-orang di belakangku yang menunggu. Nova menyuruh mereka turun duluan, dan menungguku untuk berani. Setelah tiga orang di belakangku sukses turun, tinggal aku dan seorang yang tak ingin aku lihat, karena dari atas dia berisik membujukku untuk mengikutinya lewat jalan lain.
"Nova aku takut, gamau" kataku putus asa.
Sementara itu Nova menyuruhku mengikuti orang di belakangku itu, orang yang begitu berisik, aku gak suka. Terpaksa, bisa bisa sampai sore aku diam kalau aku bersikeras gak mau turun.
"Udah teh ikut saya aja lewat jalan sana."
"Teh ayo, di sana ada jalan lain."
"Teh cepet teh, ibu-ibu aja berani."
Ocehan orang di belakangku memenuhi telinga, belum lagi Nova. Pokonya perkataan mereka semua membuat aku pusing mendengarnya.
Dengan sangat amat terpaksa, aku mengikuti saran kedua orang itu. Aku perlahan-lahan menaiki bebatuan itu dengan hati-hati. Sementara itu orang yang membantuku masih saja berisik memanggilku teteh, ingin sekali aku berteriak "Jangan panggil teteh, umurku masih 17 dan sepertinya kamu yang lebih tua!!!" tapi kuurungkan niat itu. Aku mengomel sepanjang orang itu membantuku. Ia mengulurkan sebelah tangannya untuk membantuku naik.
"Gak mau!" teriakku menolaknya.
"Ih yaudah pegang saputangan ini!" ia mengulurkan sehelai saputangan warna biru ke arahku, dan dengan enggan aku meraihnya.
Gantian, tadi dia yang berisik, sekarang aku yang malah marah-marahin orang asing yang sudah dengan sangat baik mau menolongku. Bahkan selama ditolongnya, aku enggan melihat wajah orang itu, aku hanya memegang saputangannya saja.
Setelah hampir sampai, orang itu bergegas pergi dan aku tidak mengucapkan terima kasih sama sekali. Nova sudah menungguku dari bawah, dia menolongku untuk turun.
Aku akhirnya menghambur ke arah Nova dan menangis sejadi-jadinya. Aku jatuh terduduk dan mendekap kedua lututku, menangis terus. Sementara itu Nova mencegahku untuk terus menangis.
"Kenapa yen?"
"Aku maluuuuu"
"Kalau nangis tambah malu malah"
"Iya sih huaaaaa" tangisku.menjadi-jadi.
"NOVAAA AKU KESEL, AKU CAPE, MALUUU."
"Nih, minum dulu."
"Gak mau:("
"Kenapa harus nangis?"
"Aku malu. Aku cupu. Aku kalah sama ibu-ibuuu."
"Kamu gak kalah. Kamu kan udah bisa sampai sini."
"Tadi kamu bilang gitu. Aku maluuu."
"Malu sama siapa?"
"Sama semua orang, sama kamu juga. Malu, kenapa aku harus nangis segala."
"Ya kenapa harus nangis. Lagian yang tau cuma aku dan mereka." Nova tersenyum ke arahku.
"Kalau di Bandung aku ketemu mereka gimanaaaa? Malu:("
Nova tertawa, aku nangis. Sedih.
Rasa lelah yang aku rasakan dari awal perjalanan terbayar sudah. Aku akhirnya mencapai tempat yang terletak di ujung dunia ini. Apa yang ada di pandanganku memang menjadi harga pantas untuk perjuangan kami ke sini. Aku benar-benar malu. Nova tentu sangat amat jauh lebih lelah ketimbang aku yang hanya duduk manis di balik punggungnya, di balik Nova yang terus mengemudi sebaik mungkin. Aku jadi merasa bersalah sekaligus malu, Nova tidak mengeluh sama sekali, aku melihatnya begitu ceria. Aku pengen seperti Novaaa 
Akhirnya Nova mencoba meredakan tangisku, membuatku tetap menagis sambil diselingi tawa karena mendengar deretan ucapannya.
"Dari pada nangis, mending cuci kaos kaki."
"Oh iya:("
Aku pun bergegas membawa sandalku ke aliran air di hadapanku. Aku mencuci sandal dengan khusyuk sambil terus menangis. Lalu mencuci kaos kaki malangku yang menjadi korban keganasan jalan tadi.
Aku mencuci kaos kaki dengan tangis yang setengah mereda. Seperti ratapan anak tiri, aku menangis sambil mencuci kaos kaki di sungai. Menyedihkan. Tapi... For the first time aku mencuci kaos kaki di sungai, aku yakin teman-temanku belum ada yang pernah mencobanya, yeee! (aneh-_- kok malah bangga). Jauh-jauh dari Bandung cuma buat cuci kaos kaki:(
Rasanya perasaanku mulai tenang, tangisku sudah reda. Kulihat air terjun di atas sana begitu indah, terdengar suara hantaman air menghujam air di bawahnya, mengalirkan air yang sangat segar dan berjasa bagi kaos kakiku. Ya ampun aku merasa bersalah mengotori air itu. Aku suka, airnya dingin, ingin sekali aku merendam kakiku lebih dalam tapi apa jadinya sampai Bandung, yang ada masuk angin.
Air terjun itu mengantar air itu mengalir, begitu damai. Aku suka. Banyak bebatuan di sana sini, bebatuan yang akhirnya basah karena diterjang air. Dan air itu mengalir lancar menuju suatu muara. Rasanya semua kesedihanku ikut pergi... Tapi engga dengan rasa malu ku.
Matahari begitu terik menyengat, membuatku menyipitkan mata karena silau. Aku duduk di batu besar sambil menjemur sandal dan kaos kaki. Sementara itu Nova naik mendekati air terjun.
Karena hot like hell ini makin rese, Nova memutuskan untuk beranjak dan kembali ke atas. Hhhh, harus tahan banting, harus lewat jalan menyebalkan tadi lagi. Sampai pegal memenuhi paha, akhirnya kami mencapai tempat peristirahatan. Pokoknya kami beristirahat sampai dua kali.
Aku meluruskan kedua kakiku yang rasanya mau copot itu, sambil mencari sinyal dan mengobrol dengan Nova.
"Nov... Kita pulang gimana?"
"Ya pulang aja."
"Aku capeee. Emang gak ada jalan lain?"
"Engga ada, cuma itu satu-satunya."
Ya ampun...
"Cape tapi kebayar." kata Nova padaku.
Satu kata keluhan pun tak aku dengar meluncur dari mulutnya. Nova memang serperti motor, tangguh.
"Ya Allah maafin aku banyak mengeluh, maaf karena udah secupu ini. Maafin kurang bersyukur." kataku curhat pada Allah sambil memandang pemandangan dari atas.
Lalu kami beristirahat dulu di tempat parkir tadi. Banyak anjing lalu lalang dengan bebas, membuatku takut dan berteriak-teriak memanggil Nova.
"Novaaa ayo cepet pulang. Aku takut banyak anjiiing."
"Sebentar lagi ya, masih cape. Nanti kan harus naik motor lagi."
Akhirnya aku pasrah, membiarkan diri dekat dengan maut. Walau pas ada anjing yang mendekat, aku teriak heboh memanggil Nova, memalukan...
Waktunya pulang, waktunya melewati jalan jahanam tadi. Jalan yang sukses membuat mengembuskan napas kesal berkali-kali. Jalan yang menguji kesabaran hati, pikiran, jiwa dan raga ahahaha. Kalau ada yang nanya aku siap atau enggak untuk lewat jalan itu, jujur... Engga sama sekali. Fisik mental pengen banget ngeskip aja jalan itu, tapi kenyataan dengan kejam menampar kalau pengen sampai rumah ya harus lewat jalan itu. 
Semakin ditunda, semakin malam nyampe Bandung dan nampaknya langit udah mulai mendung. Gawat kalau kehujanan di jalan, pasti jalan parah itu makin becek dan iyuwh.
Perjalanan pulang nanjak parah, bahkan sampai pernah motor Nova NYARIS mundur pas lewat jalan nanjak, untung dia tahan dan aku teriak ketakutan minta turun. Apa yang selama ini aku takutkan hampir kejadian, ternyata ketakutan aku akan jalan menanjak memang beralasan, mereka memang gak pernah ngerti. Jadi makin parno. Perjalanan pulang yang amat indah ini. Indah pisan EUY! Dihiasi dengan aku yang sedikit-sedikit turun dari motor dan berjalan, menghindari risiko jatuh, mending pegel deh daripada jatuh.
Akhirnya ya gitu. Turun, jalan, naik, ngomel, turun, jalan, naik, ngomel. Gitu aja terus sampe Bandung (enggak deng ehe).
"Nov, aku nyerah. Aku pengen jalan aja terus."
"Jangan, tigabelas kilometer lagi loh."
Perutku seperti dipelintir mendengarnya. Sementara asam laktat sepertinya sedang bergumul di pahaku akibat mendaki gunung lewati lembah (gak deng itu mah ninja hatori). Akhirnya dengan pasrah aku naik lagi ke motor walau sering kali aku di-ssstttt-in sama Nova karena terus berisik sepanjang jalan, membuat konsentrasinya hancur berantakan. Dan sepertinya gak ngaruh, karena aku sama sekali gak bisa mencegah mulutku untuk tetap diam dan gak bersikap heboh.
Di tengah perjalanan sempat gerimis dan Nova memutuskan untuk memakai jas hujan yang menurutku seperti tukang ojek.
"Daripada basah" begitu katanya.
Alhamdulillah kami telah berhasil melewati banyak rintangan hari itu. Memang benar-benar jiwa petualang yang gak menye-menye diuji. Dan ujian kali ini aku merasa gagal karena menangis:(
Masa bodoh, lupakan soal itu. Aku berjanji akan lebih kuat dan gak akan nangis, itu hanya akan mempermalukan Nova karena berpetualang dan membawa ekor sepertiku yang menye-menye.
Nah setelah membakar kalori, di tempat makan di suatu tempat entah dimana kami membakar ikan. Sama-sama membakar lah ya. Walau yang ngebakar pedagangnya aha garing. Tempatnya kurang bagus, karena pemandangannya begitu menyeramkan, sunyi pula.
 
Sampai kami turun ke toilet untuk mencuci kaki. Di bawah jauh lebih seram karena tidak menghadap ke jalanan. Tidak terlihat seperti tempat makan, melainkan tempat uji nyali yang dulu presenternya Hari Panca. Pokoknya menyeramkan berada sebentar saja di bawah itu.

Kami makan dengan perasaan dag-dig-dug karena rasa takut itu. Parno banget parahhh. Setelah itu kami lanjutkan perjalanan lagi yang Nova prediksikan akan tiba pada pukul sembilan malam.

Perjalanan pulang mulai gak woles, Nova ngebut banget. Mungkin karena mengejar target supaya sampai Bandung gak larut.

Dan sepertinya cerita trip kali ini begitu panjang, aku jadi ngerti, kalau sandalku gak masuk lumpur, kalau sandalku gak ketinggalan di jalan, kalau kami lewat jalan mulus, kalau aku gak menangis di air terjun, kalau aku gak mengeluh sepanjang perjalanan, mungkin cerita trip kali ini bakal benar-benar flat dan gak berkesan. Karena kejadian-kejadian memalukan, melelahkan, menyedihkan itulah yang membuat kami punya cerita, punya pengalaman yang luar biasa menyenangkan.

Akhirnya kami tiba di Bandung dengan selamat, walau pinggangku mulai terasa sakit.
"Yeay! Kita berhasil." kataku senang saat Nova mengantarku sambil kami melakukan tos.
Nova hanya tersenyum.
Dan itulah akhir perjalanan yang begitu panjang ini.
Makasih banyak Nov!!! Xoxo :D


Komentar

Postingan Populer