Bandung Utara
19 Oktober 2013
Di hari yang cerah tapi suasana hati gak ada cerah-cerahnya, ada notifikasi chat Line yang masuk dari Nova.
"Gi ngapain, Yen?"
Aku diam sejenak, sedikit menahan tawa sebelum membalas dengan jawaban menggelikan serupa. Duh... Nova Nova, jiwa abgnya masih benar-benar membara ahaha.
"Gi bete :(" balasku cekikikan di depan hp.
Setelah berbasa-basi, akhirnya Nova dengan sangat amat mendadak ngajak jalan. Aku berpikir sebentar. Rasanya lagi ada di sebuah persimpangan antara bosen pengen cabut dan mager buat keluar.
Setelah menimbang-nimbang, akhirnya aku mengiyakan tawarannya itu.
"Oke, nanti jam dua aku jemput."
Hhhhh, aku bernapas lega, karena setidaknya aku masih punya waktu sekitar tiga jam lagi sebelum pergi untuk ngulet di kasur.
Nova menjemput jam dua lebih karena tadi dia bilang abis dari kampus dan makan dulu. Entah Nova akan membawa aku kemana, katanya keliling Bandung utara. Agak ada perasaan gak enak juga sih karena dia dari kampus langsung jemput dan nemenin aku jalan. Sempet ada pikiran ngebatalin aja, tapi gak enak udah ngeiyain, tapi gak enak bikin cape anak orang. Tapi... Ah cukup! Mungkin cerita ini gak akan pernah selesai kalau aku terus membahas tapi tapi yang selanjutnya.
Anehnya, pertama ketemu, yang dia komentarin adalah jerawat aku yang mejeng dengan gak sopan di mukaku. Dan lebih anehnya, kenapa ya setiap orang selalu bilang, "cie jerawat siapa tuh?" ini pertanyaan aneh kan? Udah tau jerawatnya tumbuh di mukaku, ya jerawat akulah, masa jerawat tukang kue cubit! Eh jadi lapar. Oke, skip.
Untunglah langitnya cerah, aku takut bakalan hujan karena akhir-akhir ini jam segitu biasanya hujan.
Pertama, kami berangkat ke daerah apa ya namanya sebelum Cigadung gitu, di sebelum borma soalnya ngelewatin gang rumah Qonita ahaha. Lanjut ke atas, jalannya emang agak gak woles, mulai nanjak ke daerah Cigadung, sempet lewat persimpangan rumah Yoza. Naik ke atas lagi, ke daerah dago yang nanjak banget itu pokoknya, nah itu kami lewatin rumah Nana, pokoknya hari itu judulnya perjalanan ngelewatin rumah temen-temen sekelas.
Makin nanjak dan nanjak dan nanjak lagi, lewatin daerah dengan banyak pohon tinggi menjulang di kiri kanan jalan. Sejuk dan cenderung agak dingin, entah daerah apa namanya, lagi-lagi Nova membuat aku merasa bener-bener di culik ke daerah nan jauh di mato. Padahal katanya masih di Bandung, tapi rasanya udah jauh karena kami sempat lewat hutan, peradaban, hutan, peradaban, dan begitu seterusnya.
Kalau emang masih Bandung, pemandangannya jauh lebih bagus dan lebih bikin tenang. Soalnya Bandung bagian kota tempat sehari-hari hidup itu emang udah sukses bikin penat, apalagi macetnya udah bikin males kemana-mana. Lumayan, rasa jenuh dan puyeng abis uts bisa lumayan kebayar di sini, di perjalanan ke-8 yang mendadak ini.
Jalannya belok-belok, nanjak-turun dengan gak woles. Lewat hutan dengan suara khas binatang di kesunyian, agak serem. Apalagi ditambah kami saling cerita horror dan siapa lagi yang memulai kalau bukan aku. Betapa bodohnya aku...
Sepanjang hutan kina itu jalannya kurang bagus, berbatu dan sepi, sunyi dan senyap. Belum lagi rasanya kepalaku pusing banget kayaknya sih gara-gara pakai helm kelamaan. Tapi gak aku curhatin ke Nova karena emang terasa gak penting.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang itu, kami berhenti di sebuah warung. Kami duduk di kursi bambu yang cukup luas dan menghadap ke arah pemandangan keren. Pukul empat sore tepat, masih siang. Kami menikmati pemandangan dan menikmati masa istirahat pantat dengan damai, tapi kedamaian itu gak berlangsung lama ketika harus dihadapkan pada kenyataan banyaknya ayam yang lalu-lalang seenak jidat di depan kami.
Di kursi sederhana itu kami duduk dan saling berbagi cerita, cerita apa saja. Rasanya begitu tenang dan damai, riuh suara kendaraan di kota rasanya terlupakan. Diganti oleh hijaunya pemandangan yang membentang luas di hadapan kami, dengan matahari yang muncul malu-malu, bersinar keemasan. Bagus banget.
Entah gunung atau apa namanya, terlihat membiru dinaungi awan putih yang bergerak pelan, kata Nova dibalik itu ada Bandung, lucu ya, ternyata ini masih di Bandung. Belum lagi banyak pohon di sekitarnya yang terlihat seperti brokoli dari kejauhan pandangan kami. Udaranya juga sejuk, membuat paru-paru ingin menghirup dalam-dalam, membekal udara menyejukan ini banyak-banyak untuk dibawa ke Bandung nanti.
Sementara itu, Nova menyesap kopinya perlahan-lahan, sesekali menghembuskan asap rokoknya ke udara sambil menghadap pemandangan membentang di depan kami. Dia juga mengambil gambar yang entahlah, aku gak begitu memerhatikannya.
Setelah banyak mengobrol dan sibuk mengusir ayam-ayam yang berani mendekat, Nova pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan lagi.
Nah di sini perutku mulai terasa nyeri, memang belum begitu parah sih, tapi tetap aja, selama perjalanan ini aku menahan rasa sakit di perutku yang datang selewat-selewat. Sebelumnya Nova solat asar dulu, alhamdulillah sesuatu.
Kami memasuki daerah peradaban seperti kampung. Dan di situ aku masih belum percaya kalau kami masih di daerah Bandung! Selama perjalanan itu kami cerita-cerita lagi, mumpung belum sampai kota dan tertiup riuhnya suara jalanan. Aku belajar banyak dari cerita-cerita kami, semuanya terdengar unik karena setiap orang cerita hidupnya berbeda-beda, aku juga jadi belajar buat jaga diri setelah dengar cerita mengerikan Nova di warung tadi.
Dan entahlah, perjalanan pulang terasa begitu singkat, karena ini perjalanan mendadak dengan waktu begitu singkat yang pernah kami lewati. Kurang dari enam jam, dan hanya melewati satu waktu solat aja. Walau sebenernya cukup puas dengan perjalanan ini, tetap aja rasanya pengin masih berlama-lama di tempat itu.
Akhirnya sebelum adzan magrib motor Nova udah mendarat untuk menurunkanku. Dan aku baru sadar kalau Nova memakai baju berwarna hijau ahahaha dan ternyata.... Aku juga.
Untungnya selama perjalanan kami tak kehujanan karena kami lihat jalanan sudah basah, padahal di daerah pemandangan bagus tadi, gak ada setetes pun hujan yang turun.
Setelah melakukan tos, hm entahlah tos apa namanya, soalnya sampai saat ini belum aku beri nama juga. Dia pamit dan setelah aku sampai rumah, hujan turun dengan lebat. Entah bagaimana nasib Nova, aku jadi merasa bersalah. Bersalahnya dobel pokoknya.
Makasih Nov!
Komentar
Posting Komentar