Sanghyang Taraje
Hai! Emang latepost banget sih ya, ini perjalanan 2 minggu lalu, baru sempet dipost setelah melewati perjalanan baru kemarin.
28 September 2013
Sesheeeeng! Hari ini adalah trip ketujuh kami, kalau gak salah sih- kalau gak bener, berarti salah. Setelah sabtu lalu libur dulu karena aku ada acara, akhirnya ajakan Nova yang lumayan mendadak itu aku caw-kan juga.
Tepat pukul 08.15 pagi Nova menjemputku, setelah aku bersusah payah keluar rumah diam-diam biar gak ketauan orang rumah yang bakal memper-ribet keadaan. Ah akhirnya ketemu Nova lagi! Ketemu si bolang dan molangnya. Padahal rasanya baru kemarin kami main ke Gunung Galunggung, entah kenapa setiap perjalanan bersama Nova selalu aku tunggu-tunggu.
Kami menempuh perjalanan pergi dengan rute yang enggak banget. Jalan naik-turun curamnya minta ampun. Ternyata eh ternyata, Nova pakai jalan yang mengerikan itu looooh, jalan yang pernah bikin teriak-teriak karena gelap, sepi dan tidak manusiawi. Ya, jalan angker itu, yang pernah aku ceritakan pada postingan sebelum-sebelumnya.
Walau memang gak semengerikan waktu itu, karena kami sekarang lewat pada pagi hari, masih terang dan ada satu atau dua orang di jalan itu, rasanya tetap aja masih bikin jantungan karena naik-turunnya itu. Sementara aku berteriak komat-kamit ketakutan, aku lihat Nova malah tertawa sendirian. Bete tidak pemirsaaaa? Bete yen!
Dengan ke-pro-an Nova dan molangnya, akhirnya kami selamat sentosa melewati jalan-jalan jahanam itu, dari introduction, klimaks dan anti klimaksnya kami lewati bersama-sama.
Nova ingat benar setiap sudut kota Garut ini, hebat kan? Iya lah kuncen Garut, apa euy garing -_-. Nova benar-benar selalu terlihat mengesankan, mulai dari pengetahuannya yang luas, gak pelit bagi-bagi ilmu, sampai yang satu ini, dia terlihat sudah begitu pro belok sana-sini, gak pake mikir. Keprok dulu barudak!
Setelah beli minum di sebuah minimarket, sebut saja Mawar. Hahaha garing ih :(. Kami melanjutkan lagi perjalanan yang masih panjang ini. Perjalanan ke suatu daerah yang jauh dari peradaban. Tak lupa Nova memanfaatkan GPS manual biar gak tersesat, kami caw-markicaw aja ke tempat itu dengan semangat 45+10= 55.
Kemana kami pergi ke tempat yang jauh dari peradaban, di situlah kami menemukan jalan-jalan jahanam. Jalan berlubang, berbatu, naik-turun yang curamnya udah gak punya rasa kesopanan. Udara mulai dingin ketika kami melewati kebun teh (kalau gak salah, sotoy emang.) Tapi semua rintangan-rintangan yang menghadang malah membuat rasa penasaranku memuncak, ya begitulah, pengin cepet-cepet melihat tempat itu, tempat yang membuat kami berjuang sebegininya untuk sampai kesana.
Mulai dari ocehan tak penting, garing atau teriakan yang seringkali keluar dari mulutku karena jalan yang bikin jantung dag-dig-dug lebih keras, telapak tangan keringetan itu. Kalau setelah dipikir-pikir seru juga sih bisa melewati momen-momen itu sama Nova, walau awalnya agak ngenes juga sering diketawain.
Nova memang pria tangguh, kayak iklan motor gitu deh. Karena selama perjalanan antara hidup-jatuh- dan mati itu, Nova mengendarai motornya dengan begitu keren, gak terjadi sesuatu yang gak diharapkan. Top banget dah. Apalagi kalau diinget-inget, jalanannya jelek, makin menyempit dan di sampingnya jurang semua, kebayang kalau kepeleset dikit.
Akhirnya sampai tujuan, molangnya ditaro di atas karena jalan ke air terjunnya cukup gak molangsiawi gitu deh, repot juga karena jalan untuk mencapai air terjunnya memang sempit dan curam dan banyak capung.
Dari atas aja viewnya udah kelihatan keren. Keren banget malah. Perjalanan panjang kami yang penuh tantangan seakan dibayar dengan harga yang pantas lewat ciptaan Allah ini (gini nih anak mamah dedeh-_-). Keren gila!
Di tempat itu hanya ada aku, Nova dan para hewan kecil yang terbang dengan gak sopan, seperti kupu-kupu, capung dan lebah. Kami duduk dan beristirahat sejenak sambil menghadap air terjun yang tinggi dan mencipratkan air-air dinginya itu, padahal kami cukup jauh dari sumber air. Keren! Surga dunia banget pokoknya, sejuk sejuk basah (halah bahasa macam apa -_-)
Nova bergegas menyusuri jalan ke hadapan air terjun mahaindah itu, dan dia maksa aku untuk mengikutinya.
"Ayo cobain ke sana. Nanti nyesel loh, kapan lagi bisa ke sini." Nova membujukku sambil menarik sebelah tangan untuk menuntun langkahku. Aku takut, jalannya begitu kecil dan licin, belum lagi cipratan air dari air terjun itu cukup deras dan bikin basah seketika.
Seperti biasa, Nova senyum-senyum sendiri sambil menatap air terjun dan menatapku secara bergantian. Cipratan dahsyat itu sukses membuat kami lembap, lumayan basah sih padahal cuma cipratannya doang. Nova menceritakan sedikit kisah air terjun itu yang membuat aku mengangguk-angguk antara mengerti dan muka kecipratan.
Kami kembali ke alam kami hahaha, Nova mengeluarkan berbagai macam alat burunya, dan membidik beberapa gambar, sesekali membidik dan memotretku tanpa sepengetahuanku. Nov... iseng banget sih. "Setiap bawa tripod, malah kurang bagus. Tiap lagi bagus, malah gak bawa tripod" Begitulah racauan bapak yang satu ini. Duh apa boleh buat, mana aku ngerti harus gimana kan.
Kami pun memutuskan untuk naik lagi ke atas dan memotret dari jalan raya saja. Karena kalau memotret di sini, terlalu dekat katanya. Dengan kaki yang setengah mulai gempor, kami naik ke atas. Aku menemani Nova memotret, malah sambil jongok di pinggir jalan karena pegel- duh noraknya udah ngelebihin Gladys gini -_-.
Setelah puas memotret, kami bergegas pulang dan kembali menggunakan jalur syaitonirojim itu lagi, nanjak maksimal, sampai aku takut mundur lagi. Tapi bukan Nova namanya kalau nyerah. Salut!
Sebelum benar-benar pulang ke Bandung, Nova mengajakku untuk makan- entah makan siang atau apa, karena waktu siang sudah lewat dan makan sore pun gak ada judulnya. Kami makan sambil mengobrol ini itu seperti biasa. Dan terlihat di luar kabutnya cukup tebal, dan kabarnya gerimis juga. Setelah selesai makan dan solat, kami caw pulang, tak memedulikan rintik gerimis romantis itu halah hahahaha, kabutnya sangat tebal, bahkan sampai menutup pemandangan di samping juga jalan di depan kami, tapi aku suka kabut, lucu seperti asap. Udara juga gak kalah dingin dengan kulkas.
Mungkin segitu dulu ceritanya, sampai bertemu di perjalanan berikutnya! Babay.
Komentar
Posting Komentar