Stasiun Cipunegara, Subang

9 November 2013

Mari kita mulai.

Nova menjemputku pukul sebelas, tidak tepat, lewat beberapa menit. Dia menyambutku dengan senyum itu lagi. Kami tidak punya banyak waktu, kami segera berangkat.

Aku tidak tau bagaimana. Dari rumahnya, Nova berangkat ke kantor, dari kantor ke rumahku, dari rumahku kami berangkat... Bukankah itu melelahkan? Mengingat jarak antara tempat-tempat itu terbilang jauh?

Selain seperti kakakku sendiri, sahabat, dosen, koki (walau dia gak mau dibilang koki), fotografer, petualang terhebat sedunia ini. Dia juga seorang pemodus andal. Belum setengah perjalanan, di pombensin dia sudah melakukan pemodusannya, walau kali ini tidak dalam kategori heavy modus.

Aku tidak tahu sejauh apa Kota Subang sebenarnya. Aku tidak begitu fokus dalam perjalanan kali ini, entahlah. Yang aku tau, rasanya begitu damai melihat hamparan hijau kebun teh dengan langit yang cukup cerah. Entah berapa banyak ribuan terima kasih yang harus aku katakan pada Nova untuk membawaku melihat semua keindahan ini, keindahan yang membuat rasa sakit di kepalaku pelan-pelan mereda. Terima kasih, sumpah, aku telah berhutang banyak pada Nova.

Nova memberhentikan motornya dan segera memesan segelas kopi di sebuah kedai yang menghadap langsung ke arah kebun teh. Aku sampai ingat bagaimana cara Nova meminum kopinya, bagaimana cara Nova mengembuskan asap rokoknya. Semuanya terlalu erat menempel di cabang otakku dan sulit untuk kugugurkan daunnya.

Seorang petualang ini telah mengajariku banyak hal, membuka mataku pada keindahan yang tak kuketahui lewat perjalanan-perjalanan yang pernah kami lalui.

Di kedai itu kami bercerita, dan banyak tertawa. Sampai rasanya perutku sakit menahan tawa. Mulai dari orang alay yang sedang mengambil foto dari atas sampai seorang pesepeda yang... Mempunyai gaya aneh, entah apa namanya, dan ia memakaikan kain itu pada kepalanya seperti memakai kerudung.

Kami melanjutkan perjalanan lagi, melewati kebun teh yang terbentang luas, yang masih terlihat di sepanjang perjalanan. Ternyata cukup jauh jarak yang kami tempuh, karena kupikir Subang itu jaraknya dekat, tapi... Lupakan soal itu.
Pukul satu siang kami berhenti dulu untuk salat, entah dimana, aku pun tidak tau.
Mungkin sekitar dua kali aku menemukan tulisan "Selamat datang di Kota Subang", tapi kami tak kunjung tiba pada tujuan. Sampai akhirnya Nova memutar balik motornya dan berhenti untuk membeli soto ayam.

Orang tua di sekitar gerobak soto ayam itu lumayan ramah, sampai-sampai aku menyadari kalau mereka memperhatikan setiap pergerakan kecilku, lalu tersenyum ketika pandangan kami saling beradu.

Nova makan seperti kesetanan, entahlah dia menghabiskan waktu berapa lama, pokoknya cepat sekali! Dan aku pun cepat-cepat menghabiskan porsi makanku ketika aku menyadari kalau semangkuk soto ayam lain yang dipesannya itu untukku. Akhirnya Nova mau juga membantuku makan, karena aku takut makanan itu bersisa seperti biasanya, karena aku takut mengecewakan pedangangnya, dan aku tidak enak hati walau Nova bilang tak apa-apa kalau makanannya tak aku habiskan, karena cari uang seratus perak buatku itu susah. Jadi aku mencoba menghargai apa yang Nova berikan.

Tinggal ngesot, jarak dari gerobak soto ayam dan stasiun cipunegara begitu dekat. Garing banget pokoknya.

Kami disambut oleh seorang kepala stasiun berkemeja ketat yang sudah Nova kenal, karena Nova pernah sekali waktu ke sini. Subang ternyata gerah ya... panas parah.

Setelah berhaha-hihi dan Nova mengenalkanku pada kepala stasiun itu sebagai mahasiswi (pret). Kami pun memasuki ruangan yang pintunya telah dipasangi tulisan, "selain petugas dilarang masuk".
Kedua lelaki itu mengobrol, sambil Nova mengeluarkan senjatanya. (ambigu -_-) Kepala stasiun itu meledak-ledak ketika berbicara (bukan marah maksudnya), dengan logat khas jawanya yang kental.
Dan kami pun keluar, mencari spot yang pas. Nova memasang ponsel pada tripodnya agar aku bisa mengambil video kereta yang nanti akan lewat. Sementara itu Nova mulai loncat sana loncat sini mengambil gambar.

Entah sudah berapa banyak kereta yang lewat, banyak sekali. Nova bilang, di sini memang termasuk jalur sibuk karena sering dilalui. Jadi tidak usah khawatir kalau kami mengambil gambar dan gagal, karena akan ada kereta lain yang lewat.

Video pertama, biasa, selalu menjadi yang paling gagal, karena menurutku tak pernah ada yang berhasil. Nova bilang gak perlu takut buat gagal, setidaknya aku terus mencoba mengambil video yang entah sudah berapa banyak. Ketahuan kan kalau aku tipe orang yang sudah menyerah sebelum mencoba. -_-

Sekitar pukul setengah enam kurang, kami memutuskan untuk pulang.  Berpamitan dengan kepala stasiun yang ternyata kelahiran 90... dan seorang kakek yang bekerja membersihkan tempat itu.

Langit berawan, tak ada senja. Dan semua terasa semakin suram ketika pantatku benar-benar pegal dan mulai terasa sakit, tapi aku tak mengatakannya pada Nova. Sakit banget pokoknya, belum lagi Nova yang ngebut -_- ngeri bos!

Dan akhirnya kami berhenti di kedai yang kami kunjungi tadi pagi, setelah dari stasiun cupu tadi kami tak istirahat sebentar saja untuk memberi istirahat bagi pantat yang lelah ini ahahaha geli.
Kami disambut seorang bapak. Apakah ibu yang tadi pagi berubah menjadi seorang bapak di malam hari? jeng jeng jeng, jawabannya adalah tentu tidak! Setelah memesan mie dan teh, dan Nova memesan kopi, kami duduk. Nova belum apa-apa udah selonjoran, berasa tempat milik dia dah pokoknya-_-

Nove menceritakan banyak hal padaku. Lucu sekali sampai perutku sakit lagi karena tertawa terus. Udara di sana dingin sekali, hampir sedingin kulkas, gak deng bohong. Nova makan dengan hitungan beberapa kedip saja, sementara aku... ya normal lah. Suasana mencekam, gelap, apalagi di belakang kami.... tidaaak! Suasana itu kemudian terlupakan karena kami sibuk tertawa ahahahaha, sampai aku menuliskan cerita ini saja aku jadi teringat dan kembali tertawa!

Sekitar pukul setengah delapan, kami pulang. Dan dunia kembali gelap.


Komentar

Postingan Populer