Talaga Bodas

2 November 2013
Pukul setengah sepuluh pagi. Langit tampak begitu cerah, bahkan matahari cenderung bersinar terlalu terik. Silau. Dan kami pun segera caw markicaw.

Walau semalem porsi tidur udah kayak kebo jomblo, rasa kantuk masih tetap ada dan rasanya tak berkurang sedikit pun. Alhasil aku terus menguap dan menguap dan menguap dan begitu seterusnya sampai bodoh.

Hot like hell jahiliyyah kampret dan cacadolatos banget pokoknya panasnya tuh. Terik. Kayak lagi panggang diri sepanjang perjalanan, sampai rasanya punggung kakiku perih terkena terik matahari dan bodohnya lupa pakai kaos kaki karena trauma pernah masuk lumpur sebelumnya. Hft. Dan... Tadaaa!!! Kakiku belang kaya permen blaster, dan.... Sebenernya serem sih soalnya cahaya matahari udah ga bagus, bahkan bisa menyebabkan kanker kulit. Ngeri ya? Pokoknya tips buat kalian yang mau trip. Pakai kaos kaki atau setidaknya sepatu yang bisa tutupin kaki, soalnya bakal terlihat kering juga. Tapi aku ga peduli, bodo amat. Masa petualang takut matahari? Ih engga.

Cuaca yang membakar ini membuat orang-orang di jalan jadi tak sabaran. Padat. Debu mengepul di sana-sini. Panasnya bikin kepala puyeng deh.
Setelah berlama-lama di motor dan dengan tega membuat pantat menimbun asam laktat, kami berhenti di sebuah tempat istirahat. Bahkan Nova memilih yang pedagangnya cantik. Hufet-_- HEAVY MODUS GUYS!

Setelah istirahat, minum gitu walau seteguk padahal beli sebotol dan sisanya malah ditinggal-_- kami pun melanjutkan lagi perjalanan. Katanya sebentar lagi, makanya berani pergi agak siang dan banyak berhentinya.

Bener-bener hot like fire, bikin pusing. Untuk meng-adem-kan diri, kami berhenti untuk salat dzuhur di sebuah mesjid yang ternyata gak ada airnya ahahah zonk pangkat tiga, soalnya Nova udah siap-siap salat dan melepas semua perlengkapan mengemudinya. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan karena katanya ada sebuah mesjid lagi di depan.

Nova salat duluan, salat dua rakaat sepertinya ahahaha. Lalu aku. Enak deh di dalam mesjidnya adem, beda sama di luar. Setelah salat kami melanjutkan perjalanan lagi yang Nova bilang kami akan tiba sesaat lagi. Entah sesaatnya Nova tuh berapa lama.

Setelah melanjutkan perjalanan, aku sadar kalau di daerah tersebut terdapat banyak mesjid, tak terhitung, mungkin ada lebih dari tujuh buah mesjid bediri dengan berbagai kondisi. Ada yang masih di bangun, ada yang seperti rumah, ada yang kubahnya copot dan hampir jatuh. Banyak sekali guys! Tapi.... Kosong. Sayang juga banyak mesjid tapi ga diisi.

Hidung rasanya di semprot debu jalan yang mengepul akibat mobil jeep di depan kami. Apalagi daerahnya kering dan debu pun bertebaran di sana-sini. Perjalanan dari mesjid tadi untuk mencapai tujuan sekitar satu jam, lumayan lah. Karena dekat dengan daerahnya udara mulai terasa dingin seperti waktu menanjak di gunung galunggung.

Nova kelaperan, dia makan dulu dan katanya woles aja, di dalam juga tampaknya banyak orang. Entahlah, rasanya kesian aja Nova makan ditemani lagu yang diputar keras-keras oleh manusia alay di sekitar. Sedih ya:(
Lanjutkan lagi, kami memasuki kawasan dengan menempuh jalan setapak terlebih dahulu, sekitar lima menit lebih. Benar-benar setapak, mana di sebalah kanan dan kiri banyak tumbuhan, seperti hutan tapi medannya gak seekstrim di curug malela yang kemarin sih. Ini lebih manusiawi. Setelah keluar dari jalan setapak yang memang agak panjang, kami menemukan jalan besar dan belok ke kiri. Dan... Setelah beberapa menit berjalan, pemandangan yang keren banget itu udah terlihat. Dan pengunjungnya banyak guys. Panas lagi. Hufet.

Kami pun memilih tempat di balik pohon karena panasnya itu. Masuk kawasan bau kentut mulai tercium. Bau banget gak kuat. Tapi ditahan aja. Airnya tampak putih mungkin karena itu dinamakan talaga bodas. Keren, pokoknya bagus banget deh. Walau.... Bau sulfur.

Nova mulai mengeluarkan senjata untuk bertempur. Yakali perang. Ahahaha ga deng. Nova mulai memotret walau dia ngomel-ngomel karena ga juga dapet foto yang dianggapnya pas. Katanya terlalu terik. Lebih bagus pas agak teduh.

Sementara Nova sibuk memotret, aku duduk diam. Meresapi bau kentut itu dan mendengar suara bapak-bapak yang tadi pakai jeep. Suara tertawa yang begitu menggelegar ke segala penjuru tempat itu. Mana tertawanya gak sekali dua kali. Banyak banget, ga kehitung-_- berisik banget deh.

Sekitar pukul setengah dua sampai pukul tiga atau setengah empat ya... Lupa. Pokoknya sampai matahari itu gak seterik di awal dan setelah bapak-bapak berisik tadi pulang. Kami pun pulang dan salat asar di mesjid tadi terlebih dahulu.

Perjalanan pulang kami ditemani senja, baguuus banget. Walau aku gak teriak-teriak seperti biasanya karena melihat senja. Aku takut mengganggu Nova, akhirnya Nova mau juga fotoin senjanya tanpa aku kodein terlebih dulu ahaha. Bagus banget, makasih ya Nov!

Nova bilang woles aja, dan kami pun ke stasiun leuwigoong dulu. Nova mau memotret kereta katanya. Salahnya... Ada anak alay. Sementara Nova menyuruhku mengambil video yang akhirnya gatot a.k.a gagal total.

Kami melanjutkan perjalanan dan makan dulu di nagreg. Setelah pesan makan, Nova salat lebih dulu lalu aku salat pada detik-detik akan berkumandangnya adzan isya. Parah. Woles parah.-_- kami pun makan dengan lilin yang sengaja Nova nyalain aha ga tau maksudnya apa, sok sok candle light dinner. Akhirnya selesai setelah aku makan dengan waktu 30 menit kata Nova, dihitung dong... Gak ngerti lagi deh.

Pulang dan makasih Nov.



Komentar

Postingan Populer