Friend-Zone
Friend. Satu kata itu mungkin
memang biasa aja, ya, temen. Tapi gimana kalau dibelakangnya ditambah “zone”?
Jadinya friendzone. Padahal cuma ditambah satu kata yang biasa aja, tapi kenapa
artinya jauh berbeda? Hahaha kenapa? Kok pada nyesek gitu?
Friendzone, zona pertemanan.
Siapa pun yang berada di dalamnya pasti dengan muak ingin cepat-cepat keluar.
Why? Kenapa harus ada satu situasi seperti ini yang akhirnya disebut
friendzone? Idk why, I have no idea why I choose this sensitive topic. Ini karena
belakangan aku baru aja nonton “What If” yang sumpah, itu film friendzone level
15, pedesnya kayak boncabe. Gak ding, sebenernya sih filmnya biasa aja, tapi
gak tau kenapa, kalau kalian semua menghayati setiap kalimat yang dilontarkan
oleh pemain-pemainnya pasti rasa nyesek itu bakal timbul dengan sendirinya.
Alah.
Gak ngerti kenapa juga harus ada
istilah friendzone segala, kalau memang semua yang pacaran awalnya pasti dari
temenan. Misalnya gini, “Kamu suka gak sama dia? Kenapa gak jadian aja, kalian
udah cocok banget.” Lalu dijawab dengan, “Gak ah, dia sahabat aku.”
FRIENDZONE.
So? Kenapa kalau doi itu sahabat
kamu? Bukankah dulu juga kamu punya pacar dan awalnya temenan? Agak janggal ya.
Manusia seperti membuat semuanya terasa lebih ribet dari seharusnya. Alasan
klasik “cuma temen” ini bener-bener gak bisa dibenarkan. Entahlah. Coba kita
sedikit bahas film What If kemarin.
Suatu saat Wallace (cowoknya)
ketemu sama Chantry (ceweknya) di sebuah party gitu. Kebetulan Chantry ini
sepupunya Allan, dan Allan ini temennya Wallace. Yang sangat amat disayangkan
dari film ini adalah, kenapa Wallace alias Daniel Redcliffe ini terlihat begitu
pendek? Why? Kenapa juga dia dikasih main sama pemain-pemain lain yang
tinggi-tinggi? Yang akhirnya membuat mereka terlihat “berbeda”. Sumpah, selama
film itu aku agak kurang konsen saking terlalu merhatiin Daniel Redcliffe yang
pendeknya ngeganggu pengelihatan, merusak film. Maafkan aku, Ya Allah. Tapi
emang bener hal itu ngeganggu banget selama film itu berlangsung.
Lagi-lagi keluar jalur. Oke, back
to topic. Wallace ini dulunya sekolah medis gitu dan dia mengalami patah hati
sama seorang cewek yang bikin doi jadi lelaki jomblo yang hopeless. Sementara
itu, Chantry udah punya pacar namanya Ben, mereka udah pacaran sekitar lima
tahun. Wallace ini udah suka sama Chantry ketika pertama kali mereka ketemu di
party itu, tapi dia diem aja karena selama itu pula Chantry sering banget
cerita soal Ben sebagai warning buat Wallace buat gak macem-macem karena pada
dasarnya doi udah punya pacar.
Dan, semakin hari Wallace sama
Chantry ini semakin deket, temenan, konyol banget pokoknya, ini sebenernya film
comedy nyesek kalau menurut aku. Hahaha. Nah, suatu saat Ben punya kerjaan gitu
di luar negeri, dan dia harus meninggalkan Chantry. Udah aja ya, nangis-nangis,
dan suatu saat Chantry ini nyusulin ke Negara apa ya lupa namanya, mergokin Ben
lagi sama cewek Italy gitu yang judulnya sih “rekan kerja”.
Sementara itu, Wallace datengin
rumahnya Chantry dan ketemu adiknya, diceramahin gitu sama adiknya Chantry,
kira-kira kayak gini, “Kenapa sih masih ngarepin kakak aku? Dia kan udah punya
Ben, mereka udah pacaran selama lima tahun, mereka akan menikah dan kamu dateng
buat ngungkapin perasaan? Kayaknya enggak deh.” Seperti itulah kira-kira. Wallace
meski patah hati, tapi dia buru-buru nyusulin Chantry yang nyusulin Ben di
suatu Negara itu, pusing ya? Sama. Ya, ketika Wallace sampe, dia nanyain
Chantry ke Ben. Dasar oon. Pacar siapa yang gak akan marah kalau ada orang lain
yang jauh-jauh dateng Cuma mau nanyain pacarnya? Ya akhirnya Wallace kena jotos
dan alhamdulilllah matanya bengkak. Nah gak lama, Chantry sms bilang pengen
ketemuan di suatu kafe. Wallace pun buru-buru nyamperin. Dengan keadaan babak
belur, Wallace dengan antara berani-ya gimana lagi-pasrah, ngaku perasaannya
selama temenan sama Chantry, Chantry gak nyangka, dia ngerasa Wallace
mengkhianati persahabatan mereka. Akhirnya Chantry marah.
Ternyata rasa nyaman bisa
berdampak sebahaya itu, ya. Sebenernya sih apa yang Wallace rasain tuh gak
salah sama sekali, wajar, manusia mah bisa suka sama siapa aja. Yang salah
adalah, adanya istilah friendzone. Karena udah saling percaya sama pertemanan
itu, keduanya jadi menganggap mustahil adanya kemungkinan buat suka. Itulah
yang salah. Padahal pertemanan bukan berarti menutup kemungkinan buat jadian,
yakan? Akhirnya pas ada kejadian gitu, semuanya terasa salah.
Johan. Jodoh memang di tangan
Tuhan, gak ada yang tau kecuali Tuhan. So, jangan sampe menutup kemungkinan
dengan menyangkalnya. Kalau jodoh… gimana?
Masih inget gak, lagu Jason Mraz
yang “Lucky”?
Lucky I’m in love with my
bestfriend
Lucky to have been where I have
been
Lucky to be coming home again
Sweet banget kan kalau
dipikir-pikir. Apa yang salah dari cinta sama sahabat sendiri? Cuma kayaknya
sih emang keadaan gak selalu sejalan seperti apa yang diinginkan. Kadang kedua
orang sahabat itu sama-sama enggak nyadar kalau keduanya saling menaruh hati,
sama-sama diem karena lagi-lagi anggapan bahwa suka sama sahabat sendiri adalah
dosa besar.
Pada dasarnya, ada yang bilang persahabatan antara cewek sama cowok mustahil kalau salah satu di antaranya tidak menaruh hati.
Seperti biasanya, aku punya tips
untuk mengatasi masalah tentang freindzone-friendzone-an ini.
1.
Sadar
Bangun! Jangan punya pikiran dangkal, jangan
berpikiran kalau suka sama sahabat sendiri itu berarti dosa besar, kalau kamu
berniat buat ngegorok leher sahabat kamu sih, udah jelas dosa.
Sadar, kamu jangan menyangkal adanya rasa nyaman yang
beda, jangan berpikiran, “Ah, kayaknya ini nyaman karena emang udah temenan
deket banget, atau terlalu sering barengan.” No. No. No. Coba pikir lagi, kalau
nyaman itu semakin lama semakin ngeganggu dan ngebuat kamu merasa bersalah, itu
bisa jadi sebuah indikasi kamu suka sama dia!
Kalau kamu gak sadar juga, caranya ada satu. Dengan
rukiyah! Enggak ding, lebay. HAHAHA.
2.
Pasrah
Kalau kemungkinan rasa suka kamu itu bakal ngeganggu
dia, biarlah. Jadilah pemendam yang baik dan benar. Jadi inget kalimat, “dikatakan
atau tidak dikatakan, tetap cinta.” Gatau itu kayak sering baca dimana gitu. Status
bukanlah segala-galanya, selama kamu masih bisa ngeliat dia, bikin dia ketawa,
kenapa enggak? Selama kamu ngerasa “liat dia aja udah bahagia setengah mampus”,
cukupkan lah semuanya. Kamu bisa menyayangi seseorang tanpa mengumbar rasa suka
itu dengan ucapan, action!
Seperti hukum fisika, aksi=reaksi. Ketika kamu
beraksi, tinggal kamu tunggu reaksinya. Kalau dia peka, sekaligus suka, mungkin
kalian bisa jadian. Kalau dia peka, tapi gak suka, mungkin kalian masih bisa
temenan. Kalau dia sama sekali gak peka, jangan menyerah, inget, sayang itu gak
boleh pamrih. J
*sosoan*
3.
Jangan Takut
Jangan pernah takut buat patah hati. Walau ya mungkin
selama kalian berteman, gak jarang dia cerita tentang suka sama seseorang atau mantannya.
Selama ini kamu udah terlatih kan buat ngelakuin apa ketika dihadapkan pada
situasi menyayat hati itu wkwk. Ya, walau memang bener, ketika kamu nyadar kamu
suka sama dia, rasanya lebih nyesek ketika denger dia cerita suka sama orang
lain, kalem lur, da hirup mah peurih. :’(
Ada yang bilang “Berani jatuh cinta, berani juga sakit
hati.”
Persiapkan amunisi!
4.
Jangan Aneh-aneh
Walau ada yang beda, jangan sampai hal itu bikin kamu malah
menghindari dia. Kamu gak salah, dan gak seharusnya kamu menyalahkan diri
sendiri, suka sama orang gak pernah salah, yang membuatnya terasa salah adalah
ketika gak adanya kecocokan antara situasi dan waktu.
Tetep tersenyum. Jangan
menyalahkan dia ketika ada perilakunya yang menyinggung perasaan kamu. Pada
dasarnya dia hanya melakukan apa yang ingin dilakukannya, karena dia gak tau
perasaan kamu dan gak tau pula harus menjaga perasaan kamu. Inget, sayang itu
gak pamrih.
Sekian! :)



Komentar
Posting Komentar