PUAS-A



Assalamu’alaikum blogger! *Sosoan pake salam* #EdisiRamadhan. Setelah beberapa lama belakangan ini hidup aku terasa terasingkan dari peradaban, akibat dunia perkuliahan yang semakin bikin ingin menjerit, “AKU INGIN RESIGN, AKU INGIN RESIGN, AKU INGIN RESIGN!” Akhirnya ujian hidup (Read: UAS) berakhir juga, dengan rasa was-was karena nilai yang bakal keluar entah seperti apa. But, it’s okay, UAS diciptakan untuk dikerjakan, bukan untuk dikenang. Seperti slogan yang biasa dijunjung tinggi oleh mahasiswa, yaitu “Datang, kerjakan, lupakan.”

Dihadapkan pada situasi harus kuliah seperti biasa saat bulan puasa ini, bikin aku pengen gogorowokan di depan direktorat buat minta libur secepatnya, mengingat kampus lain udah mulai pada libur bahkan ketika 1500 tahun sebelum Indonesia merdeka. *Oke, ini lebay*. Tapi, you have to know that feeling when ORANG-ORANG LAGI LIBURAN SEMENTARA KITA HARUS KULIAH, rasanya sakiiiiiiit banget.

Walau awalnya ngebayangin hal yang nggak-nggak *maksudnya bukan yang jorok ya*, misal, “Ih kalau kuliah pas lagi bulan puasa, dari pagi sampai sore bakal gak kuat deh.” Atau “Ya Allah, kayaknya kalau ngebengkel pas bulan puasa bakalan pingsan di tempat bahkan ketika 2 kali kikiran saja.” Dan pikiran-pikiran aneh lainnya. Tapi ternyata semua dapat terlewati meskipun dengan titik darah penghabisan. Kalau hidup kayak game, ingin pake cheat, cheat yang bisa langsung wisuda dan hidup bahagia.

Sebelumnya aku ngebayangin kalau kuliah pas bulan puasa kayaknya bisa deh pulang lebih siang, lumayan bisa tidur siang, tapi bung, ternyata hal itu sama sekali tidak bisa direalisasikan. TIDAK BISA. Betapa sedihnya, ditambah semester dua ini yang subhanallah gusti… gak tau arahnya kemana, kayak udah deket lama tapi gak dikasih kepastian tea gening. HAHAHA. Becanda. Bukan menyalahkan dosen, bukan juga menyalahkan tingkat kesulitan beberapa matkul, tapi ini benar-benar bikin aku akhir-akhir ini ingin muntah saking gak kuatnya.

Semester duaku yang sangat aku sayangi, sering banget beberapa matkul dosennya gak masuk, karena ada kesibukan di jurusan maupun alasan dosen lainnya yang klasik, misal macetlah, inilah itulah. Semua terasa indah pada awalnya, karena kalau dosen gak masuk berarti kita bisa pakai waktu beserta infokus buat nonton film. Dan ke-ee-an terjadi ketika di akhir semester ada dosen yang meminta tugas yang riebt-ribet karena buat nambal nilai akibat ketidakhadiran dosen. Sebagai mahasiswi yang baik dan teladan, aku selalu mengingat satu pasal yang mutlak dan tidak dapat diganggu gugat, yaitu, “DOSEN SELALU BENAR.” Jadi, kalau dosen gak masuk selama lebih dari lima kali pertemuan karena alasan MACET, DOSEN TIDAK SALAH. Kalau ada dosen yang minta jadwal dipindahkan di hari lain tapi jadwal kita padat jadinya gak bisa, dan akhirnya dosen tercinta pundung, DOSEN TIDAK SALAH, MAHASISWA YANG SALAH.

Kadang suka bingung, apalagi kita sebagai mahasiswa harus menyesuaikan dengan berbagai macam dosen beserta sifat-sifatnya yang beragam. Kita sebagai mahasiswa yang teladan haruslah mengerti keadaan.

Semuanya terasa rudet, rudet serudet-rudetnya. Biasanya di akhir semester adalah ujian hidup yang bener-bener ujian. Tugas besar, laporan, UAS, dan segala macam yang bisa bikin rambut seketika beruban seluruhnya. Tapi lagi-lagi, ibaratnya meskipun udah compang-camping, kita masih tetap bertahan walau dalam hati menangis.

Hal itulah yang mengakibatkan kita gak bisa pulang cepet, bahkan hampir setiap hari kita buka puasa di luar, karena ngerjain ini dan itu. Akhirnya kita gak bisa hemat karena makan terus di luar, hiks. Niat hati buka puasa bisa di rumah, bersama keluarga, selain hemat uang, biasanya makanannya jauh lebih enak. Tapi tidak bisa, TERIMA KASIH POLBAN. AKU SAYANG POLBAN.

Daripada mengeluh terus, ya. Sebaiknya kita mengambil hikmah dari semua ini, mungkin dengan terjadinya kerudetan hidup ini, Allah ingin kita bisa lebih bersabar dalam ibadah kita berpuasa, mungkin ini secuil ujian yang bisa membuat kita bisa menjadi hamba yang lebih baik. WKWKWK. Kita dilatih buat cekatan dalam segala situasi meskipun lagi puasa, gak peduli itu lagi haus-hausnya atau lagi laper-lapernya, atau lagi lemes-lemesnya, semua harus dapat dihadapi dengan baik dan benar.

Bulan puasa hanya tersisa beberapa hari lagi, dan itu gak kerasa banget, urusan duniawi mungkin telah membuat kita sibuk dan lupa, sehingga rasanya waktu begitu cepat berlalu. Selama bulan puasa ini banyak kejadian terjadi, mulai dari gak fokus sampai ada ajaaaaa yang bikin pengen batal.

Kita review semuanya dari awal banget puasa, aku akan selalu ingat karena itu hari kamis dan kamis  adalah ngebengkel day. Untungnya kampusku tercinta memberikan keringanan waktu kuliah yang asalnya satu jam itu limapuluh menit menjadi empatpuluh menit, lumayan banget sumpah… gusti, sepuluh menit doang mah dipake ngupil juga abis. :( HAHAHA tapi gapapa, semuanya harus disyukuri. #EdisiRamadhan.

Bayangkan, hari pertama harus ngikir dari pagi sampai menjelang maghrib, untungnya puasa, jadi ngikir mulai dari pukul 09.50 sampai pukul 4 sore saja, tetep aja capek :(ketika orang-orang sedang bersenang-senang di luar sana, kami di sini terperangkap di bengkel bersama kikiran, ragum, benda kerja yang tak kunjung rapi, boro-boro buat rapi, selesai aja tuh udah berkah banget. Selama enam jam itu harus ngikir, belum lagi dikejar waktu, belum beres, dan haus banget, pegel parah. Kami hanya bisa menikmati kumpulan serbuk besi yang terhirup oleh hidung. Semoga setiap serbuk besi yang dihasilkan menjadi ladang pahala, ya. Aamiin. *Sok sok gapapa, dalam hati ingin menangis banget da ini teh*

Semakin lama, udah mulai terbiasa, kuliah sampe sore meskipun lagi puasa, walau hawa-hawanya ngantuk terus dan alhasil jadi gak fokus. Mari kita skip semuanya karena akan terlalu panjang kalau semuanya diceritain di sini. Kita bahas aja makrab hari senin kemarin, ya.

Ceritanya “makrab”, awal mula bisa dadakan ada makrab gini katanya kating 2013 udah nyewa villa tapi gak kepake karena alasan tertentu, daripada mubazir, jadilah ditawarin buat dipake sama 2014, padahal mah waduk banget emang ada unsur kesengajaan di dalamnya HAHA.

Sebuah villa di lembang yang lumayan enaklah, walau dipenuhi oleh banyak orang, bayangin aja 1 angkatan yang kira-kira 80 orang bersatu padu dalam sebuah villa yang besarnya tidak seberapa. Alhasil berisik banget kayak di pasar burung. Sebelumnya aku mau ceritain perjalanan menuju kesana.

Aku kan nebeng selep, afi nebeng vira, setelah melakukan presentasi setengah hati, kita pulang dulu, aku sama selep ke rumah selep, vira sama afi ke rumah afi. Ke cimahi men, entahlah itu bagian bumi sebelah mana kalau di peta, saking jarang banget ke sana, semuanya terasa asing, dan sore yang indah itu memaksa kami untuk bermacet-macetan di cimindi, jadinya kami ditinggalkan oleh rombongan angkatan tercinta yang sungguh sangat peduli pada anggota angkatan lainnya sampai ninggalin kami berempat sebatang kara.

“Ye, kalau beneran ditinggalin mah udah kita pulang aja.” Selep mulai patah semangat pas kita abis sholat ashar di LH.

“Gak tau selep.” Aku cuma bisa balas seadanya, dalam hati rudet banget sih.

Akhirnya kami ketemu lagi sama afi sama vira di pendopo dan segera kami meratapi nasib kami berempat karena ditinggal dengan amat tega, lebih tega daripada ibu tiri yang menyiram anaknya dengan air panas. Tapi semua itu berakhir setelah vira bilang kalau dia tau villanya.

“Vira tau da, itu kan villa yang waktu dipake makrab sama UKBM.”

OH ALLAH, terima kasih Kau telah memberi kami secercah cahaya walau semuanya masih nampak gelap gulita. Sekitar pukul lima sore ketika kami memulai perjalanan ke sana.

“Kayaknya ini mah bakal buka di jalan, udah jam segini soalnya.” Kata salah satu dari kita yang mulai pesimis.

“Vir, jangan ngebut-ngebut, ntar ketinggalan.” Kata aku dan selep yang mulai hopeless.

Masih di setiabudi aja udah dingin banget, apalagi ke arah lembang. Dan memang iya, dingin parah, langit udah mulai gelap dan kita gak sampe-sampe ke tujuan, akhirnya kita mulai curiga.

“Vir, bener ke sini gak?”

“Bener kok.”

“Jauhan mana sama villa widya?”

“Villa widya.”

Lalu kami gak lagi cerewet-cerewet nanya, tapi pas udah nyampe kampung gajah, kita kembali was-was.

“Vir, emang lewatin kampung gajah?”

Vira yang ditanya kayak yang iya-iya aja tapi tidak meyakinkan karena dilihat dari mukanya dia kayak lagi mikir.

“Vir, ini mah kalau udah nyampe kampung gajah bentar lagi lewat villa widya.”

Enggak tau harus gimana, aku hanyalah tebengers yang gak tau arah. Kami terus mengikuti vira dari belakang, ketika kami udah lewat villa widya, vira terus mengarahkan motornya ke daerah atas, lebih jauh lagi pokoknya dari villa widya, sementara tadi vira bilang kalau villanya lebih deket dari villa widya.

Hingga akhirnya villa ngebelokin motornya ke sebuah tempat villa-villa gitu dan menanyakan villa yang dimaksud ke pak satpam.

“Pak, villa ziko sebelah mana?”

Si bapak antara bingung dan gak mau terlihat bodoh.

“Lurus aja terus belok kiri.”

Kami mengikuti petunjuk yang diberikan oleh pak satpam yang tidak meyakinkan tadi. Udah jauuuuuuh banget ke dalem, mendaki gunung lewati lembah, jauh pokoknya, tapi akhirnya villanya gak ketemu, dan kita berhenti di sebuah persimpangan.

“Vir, dimana ih? Masa gak inget.” Kami mulai khawatir.

“Ih vira juga lupa da pokoknya lurus terus nanti ada jalan nurun di sebelah kiri kita turun lewat situ, tapi tadi vira gak nemu-nemu.”

Akhirnya adzan maghrib berkumandang dengan sangat indah. Indah banget meski dalam kerudetan hidup seperti ini.

“Tuhkan kita jadinya bukber ini mah, buka berempat.”

“Maafin vira temen-temen.”

Untung aja sebelumnya kami jajan-jajan dulu di minimarket jadi kami punya bahan buat ngebatalin. 

Kami pun buka puasa di sebuah persimpangan villa-villa yang entah dimana itu, dengan ala kadarnya. Akhirnya vira nelfon uda UKBM dengan Bahasa padang yang tidak kami mengerti. Sumpah kalau aku ceritain di sini bagaimana percakapannya, aku juga gak tau harus nulis apa karena gak kebayang banget artinya apa :(

Setelah dapet informasi dari uda UKBMnya, vira terlihat mendapat pencerahan. Langit udah gelap, dan kami masih lontang-lantung, hebat. Kami akhirnya turun lagi ke jalan yang tadi di tempuh, tapi lagi-lagi villanya tak kunjung ada, kami panik lagi, lebih karena laper sih.

EH BUSET, vira membawa kami turun lagi ke ledeng, sumpah itu seperti bolak-balik dari sabang ke merauke, jauh banget ih gusti. Sementara langit udah gelap banget dan udara semakin dingin.

Kami ke atas lagi, ke arah lembang, semakin dingin dan semakin gelap, jalannya semakin nanjak. Jauh banget. Sampai kita khawatir lagi.

“Vir, ini beneran gak ke sini?”

“Beneran kok yang sekarang mah asli.”

“Ini mah ke subang we atuh vir sekalian.” Selep mulai aral.

“Ih engga da, engga temen-temen.”

Belum nyampe, pantat kami udah mulai tepos, tergerus oleh perjalanan yang panjang plus nyasar tadi yang nyasarnya jauh banget. Berikut tiap ada polisi tidur dilabas dengan tidak ada perikepantatan saking takut semakin malem dan ketinggalan.

“Ini mah kita sekalian sahur on the road we gak nyampe-nyampe.”

“Iya vir, ini mah keburu imsak.”

Kami terus ngutruk selama perjalanan, ngutruk teh ngedumel artinya kalau kalian gak tau.

“Ini mah judulnya buka dan sahur on the road vir.”

Kami cewek berempat, naik motor, malem-malem, jauh pula, dengan beraninya menyusuri jalan yang entah kemana itu, tanpa ada laki-laki yang biasanya ngejagain. Sumpah, ini perjalanan ter-WANIEUN, sepanjang aku hidup, enggak ding, lebay. Kami mulai takut akan mengulangi kejadian tadi, yaitu buka di jalan, takutnya jadi sahur di jalan juga wkwk.

Setelah mencapai sebuah jalan dengan plang petunjuk jalan kalau arah lurus ke subang, kami belok ke kiri dan dari situ juga masih jauh, sampai akhirnya dengan titik darah penghabisan, kami sampai di tujuan.

Seperti itulah kenaasan kami pada puasa kali ini. Ingatlah bahwa Allah tidak akan memberikan cobaan yang melampaui kemampuan hambanya. Kayak ngebengkel, mulai dari las gas sampai las listrik, walau itu pekerjaan lelaki, di sini kami kaum hawa juga harus bisa melakukannya. Teknik, gak memandang cewek atau cowok. Walau pun setiap kali ngebengkel selaluuuu ada aja yang bikin kesel, selalu ada luka baru, entah berdarah kena benda kerja sampai luka bakar karena kena bahan tambah las gas yang masih panas juga pernah, terima kasih Pak Markus. :) Ngikir juga, ada dosen yang pernah bilang kalau ngikir itu menguji kesabaran, emang bener banget.

Tapi pada akhirnya semuanya akan dilewati dengan cara yang berbeda-beda, sekali pun sebenernya udah gak kuat banget dan ingin resign, semua perjuangan hingga semester dua ini membuat aku bertahan, karena nanggung banget udah capek ngebengkel selama dua semester, udah ngitung-ngitung sampai kepala mau botak, udah segala-galanya cara dipake buat bertahan di jurusan tercinta ini.

Kalau kalian nanya enak gak jadi mahasiswa, jawabannya adalah enak gak enak, pertama,  enaknya karena ngampus pake baju bebas, bukan seragam lagi tapi sering banget bingung harus pake baju apa lagi, gak enaknya ya itu banyak tugas dari dosen.

Kalau kalian nanya enak gak berada di jurusan aku sekarang, jawabannya adalah enak. Temen-temennya yang terutama bikin betah, udah kayak keluarga banget, menyenangkan, setipe sama aku obrolan dan lawakannya, kalau ada yang gak bisa, yang pinter selalu ngajarin di depan kelas kayak private lagi, kalau ada yang gak punya duit karena belum dikirim pasti ada yang bantu, kalau ada yang jomblo gak akan pernah ngerasa jomblo karena suasana di sana akan membuat kita melupakan rasa kesepian HAHAHAHA sumpah, asli gak bohong. Tapi seenak apa pun sebuah tempat, pasti ada aja hal yang bikin gak enaknya, misalnya di jurusan aku, bukan jurusan yang aku inginkan, jadi aku dan temen-temen biasanya sama-sama meratapi terjeblosnya kami di jurusan itu, tapi enak, sama-sama berjuang walau hati menangis karena saking susahnya jadi anak teknik.

Kalau kalian nanya enak atau enggak berada di kampus aku sekarang, jawabannya adalah gak tau, tapi untuk masalah berkualitas enggaknya bidang akademiknya, jujur, bagus, lulusannya juga kerjanya gak sembarangan, jadi mungkin itu alasan mengapa kuliah di sini begitu berat, karena masa depan cemerlang tidak dapat diraih dengan hanya nongkrong di pujas. Gak enaknya sih jauh dari peradaban, jauh dari mall, beda sama SMA yang ngesot sekali juga udah bisa nyampe di ciwalk, jadi mahasiswanya kurang hiburan kalau kata aku, sediiiiiih. Enaknya sih, gak tau ya selama ini belum ada yang bisa dipegang buat dijadikan promosi.

Jadilah topik puasa ini menyimpang jadi dunia perkuliahan. Maafin ya. Bye bye. :)

Komentar

Postingan Populer