Semua Ibu itu Baik
Setelah menjadi ibu, aku sering rindu masa-masa sendiriku, lebih produktif rasanya bisa kesana kemari, menghasilkan uang sendiri, bisa punya waktu untuk beraktivitas dengan tenang, yang semua itu kini gak bisa aku dapatkan setelah menjadi ibu.
Akhir tahun 2021 aku memutuskan untuk resign dari pekerjaanku, padahal dulu aku bersikeras ingin menjadi wanita karir bagaimanapun nanti kehidupan akan berjalan. Ketika hamil pun aku gak ada sedikitpun terpikir akan melepas karir demi keluargaku karena aku dulu tipe yang apapun aku lakukan untuk pekerjaanku, sampai sering lemburan aku kerjakan di rumah, gak ada yang tau juga kalau hari libur aku ke kantor sampai sore karena loyalitas ngerjain kerjaan dan gak dibayar.
Semua berjalan baik-baik aja, sampai si bayi ini lahir, baru mulai muncul perasaan gak tega untuk ninggalin, tapi aku berpikir kalau hal itu ya wajar tapi kehidupan pekerjaanku tetap bisa berjalan. Sebulan dua bulan bukan waktu yang mudah untuk beradaptasi dengan kehidupan menjadi seorang ibu, working mom lebih tepatnya. Sebenarnya memang capek seperti melakukan pekerjaan ganda, di kantor iya, pulang ke rumah juga harus kerjain ini dan itu apalagi udah ada anak, kehidupanku berubah bukan hanya soal aku dan duniaku lagi, tapi ada dunia anakku.
Semakin anak bertumbuh, aku merasa pula semakin banyak perkembangan yang aku lewatkan, belum lagi pergi kerja anak tidur, pulang kerja anak udah mau tidur juga, sepanjang anak bangun dan bisa ngapain aja aku gak tahu menau, perkembangannya seperti apa aku gak tau, dia bisa begini bisa begitu gak aku temani, ditambah waktu itu beban kerja di kantor penuh sekali, mengharuskan untuk sering lembur, semakin berkurang waktuku untuk anak, dari 7 hari itu cuma 1 hari dan itu pun ingin aku pakai untuk istirahat, alasan capek kerja.
Aku bertahan dengan kondisi ini sampai umur anakku 9 bulan, waktu itu dia lagi ada di fase GTM parah, gimana gak khawatir, walau mungkin bagi sebagian orang ya emang bakal ada fasenya tapi bukan hal sesimpel itu sih.
Akhirnya aku diskusi dengan suami, aku memutuskan saat ini aku abdikan waktuku untuk mengurus keluarga, kupikir lebih mudah daripada kerja di kantor, lebih luang karena di rumah urus anak doang.
Ternyata eh ternyata...
Menyenangkan sekali ya melihat anak, menemani perkembangannya selama 24 jam penuh, mengajari dia banyak hal, mengajaknya ngobrol, mengajarinya berjalan, pokoknya aku senang bisa menjadi seorang ibu yang mendampingi langsung perkembangan anak.
Semakin besar, dia semakin banyak kemampuannya, tiba-tiba bisa ini dan itu, dulu masih ngoceh gak jelas sekarang udah bisa diajak ngobrol walau kadang dijawab dengan jawaban khas anak kecil yang kadang nyambung, banyak gak nyambungnya. Menyenangkan sekali menjadi seorang ibu, khususnya aku yang sekarang ini menjadi IRT, Alhamdulillah gak sepi, ada anak yang nemenin, tapi bukan hidup namanya kalau gak ada ujiannya, karena manusia di dunia bakal diuji sepanjang hidupnya kan?
Memang kita tidak bisa mengatur agar semuanya ada dalam kendali, kadang ada kalanya anak itu rewel, menyebalkan dan sulit ditebak. Gak semua dunia anak kecil itu lucu dan menyenangkan, masuk umur 2 tahun mulai ada istilah teribble two, dimana anak jadi sering tantrum dan banyak tingkahnya. Memang harus sabar, walau dunia kita sekarang terasa acak adut:(
Adakalanya anak itu gak mau makan, ditambah ngompol dan pup di celana, ditambah suka rewel dan nangis histeris dengan alasan konyol, bener-bener kalau mau punya anak itu kita harus selesai dengan diri sendiri, jangan sampai masih ada luka yang mungkin gak kita sadar kita lempar ke anak kita. Bagaimana mungkin seorang ibu bisa membagi cinta untuk keluarganya kalau tangki cintanya kosong? Seringkali ia kini mengutamakan keluarga, mengesampingkan dirinya sendiri karena takut dibilang egois dan bukan ibu yang baik. Padahal untuk mencintai orang lain kan kita harus mempunyai cinta itu sendiri.
Seringkali yang membuat ibu merasakan burn out itu bukan perkara anak saja, tapi lebih ke faktor -faktor lain, seperti hubungannya dengan pasangan, masalah finansial, manajemen waktu, kelelahan melakukan segudang aktivitas yang dimulai subuh sampai mau tidur dan gak ada habisnya. Coba bayangkan bagaimana bisa seseorang bisa bersikap tenang ketika kondisi sekitarnya begitu sangat kacau baginya? Jadi wajar kan kalau ada ibu yang menjadi mudah marah karena hal sepele? Karena menurutku emosi itu seperti ledakan yang hanya membutuhkan trigger sepele.
Menurutku kesehatan mental seorang ibu itu penting, dan yang paling terpenting adalah dukungan dari orang terdekat, yaitu suami, dan mungkin orang tua. Jangan membuat seorang ibu itu kesusahan sendiri, sering kepalanya terlalu penuh dengan banyak hal, mendengarkan keluh kesahnya dari A sampai Z tanpa dihakimi sudah cukup membuat hatinya menjadi lebih ringan. Memberinya waktu tenang untuk makan atau sekedar mandi tanpa perlu terburu-buru karena tangisan anak, itu sangat berarti bagi dia yang sehari-hari kadang makan aja lupa, terlalu sibuk mengurusi rumah dan keluarga sampai ia lupa memikirkan dirinya sendiri.
Jangan judge seorang ibu itu pemarah, karena tidak ada seorang ibu pun ingin menyakiti anaknya, yang ada hanyalah jiwa yang lelah dan kosong hingga ia kesulitan memenuhi tangki cinta orang-orang yang ia cinta.
Lebih peka lagi, yuk. Karena mengurus anak bukan perkara memandikan, menyuapi, mengajak main, tapi ada fisik dan mental yang kuat yang harus dipersiapkannya setiap hari. Berkutat dengan pekerjaan yang harus dikerjakan dari membuka mata saat bangun sampai tidur, dengan aktivitas berulang, di dalam rumah dengan hanya seorang balita yang tiap hari moodnya tidak selalu baik, bertahan sepanjang hari melakukan aktivitas tanpa bisa berbicara/ bertemu orang lain. Sungguh, itu bukanlah hal yang mudah untuk dilalui.
Ada banyak pengorbanan, ia telah merelakan karirnya, cita-citanya dan meredam egonya untuk keluarganya. Mungkin ada cita-cita yang sangat ingin dicapai tapi tertahan, ada banyak keinginan yang tidak berani ia utarakan karena takut banyak membebani, ada lelah yang ia pikul sendiri tanpa ia ceritakan kepada siapapun karena takut dicap menjadi seorang ibu yang buruk dan tidak bersyukur.
Semua ibu ingin menjadi ibu yang baik, tidak ada ibu yang ingin marah-marah tanpa ada alasan yang jelas. Jadilah wadah yang dapat menampung keluhnya agar ia tidak merasa lelah dan mudah marah, jadilah telinga yang tidak menghakimi karena seorang ibu tidak memiliki siapa -siapa lagi di dunia barunya ini, ia asing dengan perannya kini.

Komentar
Posting Komentar